Sabtu, 01 Maret 2008

Ayat-Ayat Cinta

Rating:★★
Category:Movies
Genre: Drama
Jujur saja, beberapa waktu yang lalu ketika ada kabar akan difilmkannya novel Ayat-ayat Cinta, aku udah agak-agak nggak yakin, bisa nggak ya filmnya sebagus novelnya?
Benar saja, setelah aku nonton filmnya, aku kecewa karena filmnya cuma 'begitu' aja. Kurang greget lah...
Sorry to say, akting para pemainnya juga biasa aja. Paling geli pas adegan Fahri ngaji di depan gurunya -pake suara orang lain tentunya. Suaranya meliuk-liuk kayak suara dari alam lain. Udah gitu, suara orang yang dipilih kedengarannya seperti suara perempuan padahal suara Fahri kan cowok banget.
Rianti juga belum berhasil membawakan tokoh Aisha.di film itu gaya bicara Aisha masih seperti gayanya Rianti kalo bawain acara di MTV. Jadi seperti ngeliat Rianti, bukan Aisha.
kalo dinovelnya digambarkan Aisha itu seorang perempuan cerdas yang lembut, kaya raya tapi nggak sombong. Di filmnya, Aisha kok jadi agak sombong dan nyinyir ya? misalnya pas Aisha ngomong ke suaminya; "aku siap tinggal di flat murah. nggak pake mobil juga nggak apa-apa". Mimik mukanya Rianti ketika ngomong begitu tampak sombong sekali.
Terus ketika 'menginterogasi' Nurul, Aisha juga jadi nyinyir. Nggak enak gitu deh cara ngomongnya.
Pemeran gurunya Fahri juga kurang pas. Kesan seorang Guru Besar yang Alim, kharismatik dan berwibawa, kurang berhasil dibawakan.
Karena syuting nggak dilakukan di Mesir, jadi nuansa 'Mesir'nya agak kurang. sosok Fahri yang seorang mahasiswa Al-Azhar jadi kurang meyakinkan karena kampusnya yang terkenal di dunia nggak diperlihatkan. Kalo saja dapat ijin buat syuting di Mesir, pasti filmnya lebih 'ngena'.
terus, aku juga agak penasaran sama satu hal.Di salah satu adegan diceritakan Fahri datang ke Wisma Nusantara. Mmm,,, Wisma Nusantara itu yang tempat kerjanya Dubes Indonesia bukan ya? kalo iya, berarti nyari lokasinya kurang pas. soalnya tempat kerja Dubes yang pernah aku datangi dulu bentuknya nggak seperti yang di film. Pintu masuknya beda banget.
Nggak ada adegan yang berhasil memikat hatiku. eh.. tapi ada adegan yang cukup menghibur. Yaitu pas Maria ngaji di bis. lucu banget deh! suaranya kayak anak kecil. hehehe...
Walaupun mengecewakan, tapi aku tetep salut sama Mas Hanung yang berani bikin film bernuansa religi di saat lagi marak-maraknya film hantu-hantuan. Salut!!
Untungnya nih.., soundtracks film ini enak didengar. Jadi bisa sedikit mengurangi rasa kecewa.

Gambar diambil dari sini

Rabu, 27 Februari 2008

Panik..

Semalam –sekitar jam 1 dini hari- tiba-tiba si Ravi honda-honda. Untung waktu itu aku belum tidur, jadi bisa langsung nolongin dia. aku panik banget! soalnya sebelum tidur dia masih main-main seperti biasa. Nggak panas nggak apa. aku naik ke kamarnya Abah, ternyata Abah Ibuk udah sare. Mbak Iey juga udah tidur. Gimana nih?! Akhirnya, aku olesin aja tubuhnya pake minyak telon. Terus tak isik-isik sambil tak bacain shalawat. Alhamdulillah bisa tidur lagi. aku juga ikutan tidur. Tiba-tiba sekitar jam setengah 4 pagi, Ravi honda-honda lagi. dengan nyawa yang belum sepenuhnya nempel, aku ajak dia ke kamar mandi untuk bersihin badannya. Abis itu, aku kasih minyak telon lagi. kipas angin aku matikan. Aku berkesimpulan dia masuk angin. Awalnya dia susah tidur karena nggak pake kipas angin –Ravi dan semua ponakanku nggak bisa ‘hidup’ tanpa kipas angin. Tapi lama-lama tidur juga. Karena sebagian kasur kena honda-hondanya, aku pindah ke kasur sebelahnya. Ravi aku biarkan tidur sendirian. Sekitar jam 6 pagi, aku ngerasa ada yang manggil-manggil aku. “Mbak Aal.. Mbak Aal…”. Aku pikir cuma mimpi. Tapi ternyata enggak. Pas akhirnya aku bisa melek, aku liat di kasur sebelah Ravi udah dalam posisi duduk dan mukanya pucat. Ternyata dia honda-honda lagi!! aku langsung melek semelek-meleknya.

Dengan agak maksa, aku ajak dia mandi. sebenarnya ya nggak tega. Tapi badannya kena semua je. Untungnya dia mau. Saking lemesnya, Ravi nggak kuat berdiri. Jadi dia mandinya jongkok.

Abis mandi, aku tanya mau ke dokter nggak? Dia bilang mau. Pas aku tanya “mau naik becak apa dibonceng mbak aal naik motor?”. Dia bilang “naik becak”. Aku udah siap manggil becak tapi Ibuk -yang ada di deket Ravi- bilang “boncengke motor lak wis. Ben cepet”. Karena ada ‘restu’ dari Ibuk, aku tawari lagi si Ravi. “naik motor aja ya?”. dia bilang iya.

Ya udah, akhirnya kami berangkat ke dokter naik motor. Sampai di tempat dokternya, ternyata udah ada banyak pasien lainnya. Pas antri, Ravi udah mulai BT gitu. “kok lama mbak?” “Kok nggak masuk-masuk mbak?”. Beberapa kali dia terlihat pengen honda-honda lagi. Bodohnya, aku lupa bawa plastik! Aku cuma bisa berdoa moga-moga Ravi nggak muntah. Alhamdulillah… doaku terkabul. Thanx GOD….

Pas akhirnya masuk ruang periksa, aku liat Ravi senyam-senyum.

Oalah, anak ini… Lagi sakit, liat dokter cantik juga masih bisa ‘tebar pesona’. Ck..ck..ck..

Dokter bilang, Perutnya Ravi memang lagi ada sedikit masalah. Kemungkinan mau diare. Untuk sementara nggak boleh minum susu dulu, nggak boleh makan jajan yang ‘ringan-ringan’ dulu. Syukurlah sakitnya bukan sakit yang berat.

Sampai dirumah dia udah mulai ceriwis lagi. cerita-cerita kayak gitu. Setelah minum obat dan makan, dia tidur. Mungkin pengaruh obatnya. Alhamdulillah yang dimakan nggak keluar lagi. mudah-mudahan besok udah sehat lagi. dia udah nggak sabar pengen main stik-stikan lagi. untuk sementara memang aku larang dia main stik-stikan. Lha kalo udah pegang stik pasti trus jingkrak-jingkrak nggak karu-karuan. Loncat sana, loncat sini.

Untungnya, Ravi manut banget. dia juga nggak rewel blas..

Selasa, 26 Februari 2008

CANTIK

“ada seorang wanita yang sudah berkomitmen dengan kekasihnya tapi kemudian sang kekasih harus pergi untuk menuntut ilmu di negara lain. Sebelum pergi, wanita itu dan kekasihnya bertukar kalung sebagai tanda ‘ikatan’. Setelah beberapa tahun, kekasih wanita itu ‘pulang kampung’ tapi dia bersama wanita lain yang lebih putih dan lebih ‘kinclong’ dari wanita itu.

Melihatnya bersama wanita lain, tentu saja wanita itu terluka.Wanita itu lalu mengambil kesimpulan kalo dia berpaling ke wanita lain karena wajahnya yang nggak mulus. Akhirnya wanita itu  melakukan sesuatu untuk memutihkan dan memuluskan wajahnya. Selama semingguwanita itu selalu ketemu dengan mantan kekasihnya. Pada hari ketujuh wajah wanita itu benar-benar sudah mulus. Si mantan kekasih  melihatnya dan berusaha untuk mendapatkannya lagi. tapi terlambat. Pada hari ke tujuh wanita itu sudah siap berangkat ke luar negeri. Si mantan kekasih mengejarnya dan berhasil menemuinya. Wanita itu langsung pergi meninggalkan mantan kekasihnya tapi laki-laki itu  mengejarnya dan berhasil meraih tangannya. Ketika wanita itu menepis tangan mantan kekasihnya, tanpa sengaja wanita itu menyentuh sesuatu di leher si mantan kekasih. Ternyata mantan kekasihnya  memakai kalung tanda ‘ikatan’ itu. Begitu melihat kalung tersebut, wanita itu langsung luluh dan kembali ke pelukan mantan kekasihnya lagi. Akhir cerita, akhirnya mereka berdua menikah.”

 

Pertanyaannya: jika kamu menjadi wanita itu, apakah kamu juga akan melakukan hal yang sama dengannya? Apakah kamu juga akan segampang itu kembali ke pelukan laki-laki yang telah mengkhianatimu?

Bagaimana jika di kemudian hari ada lagi wanita yang lebih putih, lebih mulus dan lebih kinclong dari kamu? apa yang akan kamu lakukan untuk membuat kekasihmu tidak meninggalkanmu lagi? apakah kamu akan melakukan operasi plastik?

 

Menurutku, wanita itu cantik tapi tidak cukup cerdas. Kalo dia benar-benar menghargai dirinya sendiri, dia tentu tidak akan segampang itu menerima laki-laki yang telah berpaling ke wanita lain hanya karena dia memiliki wajah yang kurang mulus. Kalo laki-laki itu benar-benar tulus mencintainya, dia tentu tidak akan mempermasalahkan kulit wajah yang kurang putih atau kurang mulus. Toh nanti tuanya juga akan keriput.

 

Kenapa ya kulit putih mulus masih dianggap segala-galanya? Ada yang pernah bilang “Putih itu cantik, Nggak putih juga cantik”. Aku setuju banget itu!! Jujur saja, aku dulu juga mendambakan punya kulit putih tapi mau usaha seperti apapun kalo kulit aslinya nggak putih ya selamanya akan kayak gitu. Kecuali kalo mau suntik pigmen kayak Michael Jackson. Hehehe… amit-amit deh…

makanya aku sebel kalo wanita-wanita yang kulitnya nggak putih selalu “dipinggirkan”. Liat aja di tv-tv. selalu yang jadi “pemenang” adalah mereka yang berkulit putih. Memangnya kalo nggak putih nggak bisa mendapatkan cowok cakep? nggak bisa dapat jabatan bagus? nggak bisa jadi model? Nggak juga kan???

jadi, untuk para wanita yang nggak berkulit putih jangan minder ya! jangan merasa kalah. Jangan merasa nggak diterima. Jangan merasa nggak cantik.

Apapun warnanya; mau putih, kuning, coklat, item, asalkan hati kamu bersih, yakinlah, kecantikan akan terpancar di wajahmu.. ^_^

 

 

 

Sabtu, 16 Februari 2008

HARD BALL

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Aku pertama kali liat film ini pas di perjalanan ke Jakarta naik kereta api beberapa tahun yang lalu. walaupun nontonnya jarak jauh tapi aku menikmati sekali film ini. Sampai nangis-nangis.
Film ini dibintangi oleh Mas Nunu alias Keanu Reeves dan Diane Lane. Ceritanya tentang seorang maniak judi yang terpaksa jadi pelatih baseball demi mendapatkan uang untuk membayar utang-utangnya. Awalnya Conor O'Neill (Keanu Reeves) stres berat karena anak-anak yang harus dilatih itu anak-anak ‘pinggiran’ yang susah bersikap optimis. Tapi lama kelamaan dia bisa dekat dengan anak-anak itu.
Di film ini ada adegan-adegan yang lumayan ‘keras’. Perkelahian antar gangster gitu deh. tapi nggak banyak kok.
Yang bikin aku nangis pas Baby-G –anggota tim yang paling muda yang sebenarnya belum boleh main karena masih dibawah umur- terkena peluru nyasar para gangster itu. Kasian banget…
Aku nangis lagi pas O'Neill memberikan kesaksiannya di pemakaman Baby-G. Huhuhuhuhu…… sedih banggett!!
Ending film ini memang udah bisa ditebak. ‘From Nothing to Something’ gitu deh. Eh, bener nggak ya istilahnya gitu? Hehehe….
Tapi biarpun udah bisa ditebak endingnya, film ini tetep enak ditonton kok. Aku udah beberapa kali nonton –setelah nonton di KA itu lalu nyewa di rental, trus nonton diTV dan akhirnya beli DVD-nya- tapi selalu aja nangis pas dibagian Baby-G. Hiks….

gambar diambil dari sini

Jumat, 15 Februari 2008

ALMAS, INTAN, DIAMOND, SOULS

Dalam bahasa Arab, ALMAS artinya Intan. Jujur saja, dulu aku sebel dengan namaku yang super pendek ini. Sebelnya lagi, banyak yang manggil aku “Mas”. Orang Indonesia seringnya kan manggil orang dari suku kata yang terakhir. Karena namaku Almas, jadinya lebih sering dipanggil “Mas” daripada “Al”.
Namaku juga sering dikira nama cowok. Pernah waktu lagi ngantri periks dokter, pas tiba giliranku, perawatnya manggil “Bapak Almas”. Dia kaget begitu tau kalo Almas itu cewek dan cantik lagi! Huehehe…*PD!*
Terus, aku pernah beberapa kali kirim email ke penerbit-penerbit buku. Ya yang komplain lah, yang ngritik lah dll. Emailku selalu dibales, tapi awalnya begini; “Pak Almas yang baik” atau kalo enggak “yang terhormat Bapak Almas”. Aduuuhhh….
Orang-orang juga nggak percaya kalo namaku cuma ALMAS. Akhirnya aku akal-akali sendiri, aku tambahi “MUSTOFA”. Jadi kalo ada yang nanya “nama lengkapnya siapa?”. Dan bila aku jawab “Almas”, orang itu masih juga nanya “lengkapnya?”, aku jawab aja “Almas Mustofa”. Nama tambahan itu sampai sekarang aku resmikan jadi nama lengkapku. Hehehe…
Anehnya, banyak yang susah menyebut “Almas”. aku seriiiiiiiiiiiiiing banget mengulang nyebutin namaku kalo pas nerima telpon dan si penelepon nanya namaku. Contohnya nih:
Penelepon (P) :“Maaf, mbak namanya siapa”?.
Aku (A) : “ Almas
P : “ Maaf?”
A : “ ALMAS
P : “ Asmah?”
A : “ ALMAS!!” *udah mulai jengkel*
P : “ Oh.. Alma?”
A : “iya.. Alma

Kejadian seperti itu nggak cuma sekali dua kali tapi berkali-kali! Anehnya lagi, misalnya aku bilang “Almas” trus orang yang nelpon nanya lagi “Maaf? Siapa mbak?”. Begitu aku nyebut “Alma”, mereka langsung bisa. “ Oh ya, begini mbak Alma..”. aku jadi heran. Kenapa kalo aku bilang “Alma”, orang-orang langsung bisa ‘nangkap’. Kalo “Almas”, sering aku mengulang sampai tiga kali bahkan lebih!! Pfuuiihhh!!! Kenapa ya? Padahal cuma lima huruf lho! Dan cuma dua suku kata! Aneh..
Sekarang, daripada aku jengkel sendiri, aku memutuskan menggunakan nama “Alma” jika menerima telpon dari orang-orang tak dikenal. ^.^

Dalam bahasa Inggris, Almas berarti Diamond. Waktu aku di Mekah, pernah ditanya orang sana “Namamu siapa?”. Begitu aku jawab “Almas”, dia langsung bilang “Diamond.. Diamond..”. aku jawab aja “Aiwa.. aiwa…”. Hehehe…

Dalam Bahasa Spanyol artinya Souls. Aku nggak ngarang lho! Aku udah nanya sama sepupuku yang fasih bahasa Spanyol –Thanx Mbak Selly!!.
Aku tau kalo dalam bahasa Spanyol juga ada “Almas”, itu waktu beberapa tahun yang lalu Ricky Martin ngerilis albumnya yang berjudul “ALMAS DEL SILENCIO”.
Aku bangganya minta ampun karena namaku dijadiin judul album. Aku langsung beli kasetnya dan aku pamerin ke sodara-sodaraku juga teman-temanku. tapi aku cuma sekali dengerin kasetnya. Lha semua lagunya pake bahasa latin je. Aku mana ngerti… ^.^
- eh btw, Latin ama Spanyol sama nggak sih?? -
Jadi memang aku beli kaset itu hanya untuk ‘bangga-banggaan’. Bukan untuk aku dengarkan. Hehehe….

Kalo ARUMASU itu nama ALMAS dijepangkan. Kata Sensei-ku, orang Jepang kesulitan melafalkan huruf “L”. Makanya nama-nama yang mengandung “L” sering diganti dengan “R”. Karena ALMAS itu nama asing, maka ditulis pake huruf Katakana. Jadilah ARUMASU. Lucu ya? ^.^

Kalo dulu aku sempat sebel dengan namaku yang pendek banget dan kayak nama cowok, sekarang aku justru bangga betul dengan namaku yang nggak biasa dan nggak pasaran ini.
Justru dengan nama yang pendek, aku jadi gampang diinget tapi nggak gampang dilupakan. Waaa… GR nya diriku. Hihihi…
Oia, aku juga agak-agak nggak terima kalo ada yang ngembari namaku. Pasti aku protes ke orang yang pake namaku –kalo aku kenal orangnya sih..- Sok-sokan banget ya aku?? J
Last but not least, Terima kasih kepada Abah yang telah memberikan nama indah untukku.

foto diambil dari amazon.com

Selasa, 12 Februari 2008

Sang Pemimpi

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Andrea Hirata
Hanya butuh waktu 2 hari untuk ‘melahap habis’ buku kedua Andrea Hirata ini. Ceritanya seru dan mengharukan sekali. Kalo di buku pertama –Laskar Pelangi- aku hanya sampai pada tingkatan ‘berkaca-kaca’, buku ini berhasil membuatku sampai nangis deleweran.
Buku ini menceritakan serunya masa-masa remaja si penulis. Masa-masa SMA lengkap dengan kenakalan khas anak-anak SMA.
Selain Ikal, ada juga Arai dan Jimbron.
Arai, saudara angkat Ikal yang ditinggal wafat Ibunya ketika dia baru kelas 1 SD. Sejak Ibunya wafat, Arai tinggal berdua saja dengan Ayahnya. Itupun tak berlangsung lama, menginjak kelas 3 SD, Ayahnya juga wafat. Ayah Ibunya merupakan anak-anak tunggal dan kakek neneknya dari ekdua orangtuanya juga telah tiada. Oleh karena itu, Arai mendapat julukan ‘Simpai Keramat’ yang artinya orang terakhir yang tersisa dari suatu klan.
Bagian mengarukan pertama; saat Arai dijemput oleh Ikal dan Ayahnya untuk diajak tinggal bersama. Beberapa langkah sebelum naik ke mobil yang mengangkutnya, Arai menoleh ke belakang, ke arah gubuknya untuk yang terakhir kalinya. Ekspresinya datar. Anak sekecil itu telah belajar menguatkan dirinya. Yang menangis justru Ikal dan Ayahnya. Sepanjang perjalanan, mereka berdua tak henti-hentinya mencucurkan airmata.
Arai walaupun kadang-kadang bikin jengkel Ikal, tapi Ikal tetap menganggap Arai sebagai ‘pelindungnya’. Seniman kehidupan sehari-hari itulah sebutan Ikal untuk Arai.
Sahabat dekat Ikal satunya lagi bernama Jimbron. Jimbron mengidap gagap akut. Tapi dia gagap hanya jika ketakutan dan jika sangat senang.
Jimbron juga sangat terobsesi pada kuda. Segala jenis kuda dan sejarahnya, dia sangat paham sekali.
Ada juga Pak Mustar, guru yang sangat keras pada murid-muridnya. Awalnya dia tidak seperti itu. Tapi sejak anaknya ditolak masuk ke SMA yang dirintisnya karena NEM-nya tidak memenuhi syarat, dia lalu melampiaskan kemarahannya dengan cara-cara ‘kejam’. Kesalahan sepele, diganjar dengan hukuman yang tak masuk akal. Seperti ketika menghukum Ikal, Arai dan Jimbron. Gara-garanya mereka bertiga tertangkap basah ketika sedang nonton bioskop yang memutar film panas. Padahal mereka sudah menyamar. Mereka menyamar dengan cara memakai sarung yang sudah berbulan-bulan tak dicuci. Baunya naudzubillah! Ternyata itu cara agar ketika melewati petugas penyobek kasrcis, mereka tidak diperiksa dulu. Ternyata benar, karena mencium bau yang sangat tidak enak, petugas bioskop –tanpa melihat- langsung menyuruh masuk mereka bertiga.
Mereka akhirnya ketahuan, karena penjual jagung disekitar bioskop melaporkan adanya tiga pengunjung yang gerak-geriknya mencurigakan.
Mereka mendapat hukuman dari Pak Mustar. Mereka harus menirukan beberapa adegan dalam film ‘panas’ tersebut di lapangan sekolah. Tentu saja penampilan mereka membuat heboh seisi sekolah.

Pas Mustar selain suka memberikan hukuman ‘kejam’, juga mempunyai cara unik untuk ‘mempermalukan’ murid sekaligus orang tuanya. Jadi, setiap kali penerimaan rapor. Di aula tempat penerimaan rapor, kursi-kursi yang akan ditempati oleh para wali murid diberi angka sesuai ranking anaknya. Wali murid yang anaknya masuk dalam kelompok ‘garda depan’ tentu saja bangga karena bisa duduk paling depan. Kebalikannya wali murid yang anaknya mendapat ranking belasan maupun puluhan, bisa dipastikan akan malu sekali. cara ini terbukti ampuh. Murid-murid jadi tergerak untuk lebih giat lagi belajarnya, agar nggak bikin malu orangtuanya.
Ayah Ikal selalu bersemangat mengambil rapor Ikal dan Arai. Walaupun harus bersepeda sejauh 30 km, Beliau tidak pernah absen. Beliau bangga karena Ikal dan Arai selalu masuk garda depan. Hanya sekali Ikal keluar dari posisi terhormat tersebut.
Waktu itu tahun terakhir SMA Ikal. Dia tiba-tiba manjadi malas belajar karena sudah membayangkan setelah lulus tidak akan bisa sekolah lagi dan hanya akan menjadi pekerja kasar. Bayangan tersebut menjadikan Ikal yang semula optimis berubah pesimis. Nilainya hancur. Ketika penerimaan rapor, Ikal mengira Ayahnya tidak akan datang karena kecewa. Tapi ternyata Ayahnya tetap datang ke sekolah. Datang bersepeda, memakai baju safari kebanggaannya dan tetap dengan senyum tulusnya. (Ini bagian mengharukan kedua). Sikap Ayahnya ini seperti ‘menampar’ Ikal. Sejak itu Ikal tak pernah malas-malasan lagi.
Bagian mengharukan ketiga, waktu Jimbron memberikan dua buah celengan kudanya kepada Ikal dan Arai, ketika mereka berdua hendak merantau ke pulau Jawa setelah lulus SMA.
Kenapa aku bilang mengharukan? Baca sendiri aja deh! ntar juga tau sendiri. Hehehe….
Sama seperti buku pertamanya, buku kedua juga ada sedihnya, harunya, lucunya, senengnya bla bla bla.
Dari buku ini aku jadi tau, bahwa mimpi-mimpi yang rasanya mustahil terwujud, ternyata bisa terwujudkan jika kita benar-benar mau berjuang untuk mewujudkannya.
Jadi, jangan takut untuk bermimpi!!!!

Gambar diambil dari sini


Kamis, 07 Februari 2008

Laras Asri Resort and Spa

Rating:★★★★
Category:Other
Selasa tanggal 5 Februari kemarin, aku diajak Abah ke Salatiga. Sama panitia pengundang, disediain kamar di hotel Laras Asri. Hotelnya luas banget. Kamar-kamarnya model rumah-rumah gitu. Istilahnya apa sih? Cottage bukan ya?
Banyak tempat yang asyik buat foto-foto. Aku begitu datang juga langsung foto-foto. Sama Abah aku dijadiin model dadakan. Disuruh pose begini-begitu. Aku sih senang—senang aja. Hehehe….
Pas diajak masuk kamar, tambah seneng lagi. Kamarnya nyamaaan banget! Ya iyyalah…. Lha wong dikasih yang suite. Hahaha… oia, untuk menuju kamar, nggak boleh bawa mobil sendiri. Harus pake mobil hotel. Mobilnya kayak kereta anak-anak yang sering lewat dijalan-jalan itu lho…
Tapi… begitu masuk kamar mandinya, aku langsung syok! *mendramatisir*
Kamar mandinya ada tamannya juga. Taman kecil gitu deh. Tamannya itu dikelilingi tembok setinggi kurang lebih 2meter. Ternyata tembok itu sebagai pengganti tirai.
Bingung? Jadi begini, kamar mandinya kan ada tiga bagian. Toilet sendiri, bath ub sendiri, shower sendiri. Lha masing-masing tuh di batesi dengan kaca tapi nggak dikasih tirai. Aku jelas aja kaget dan nggak ngerasa nggak nyaman. Yang namanya kamar mandi pasti kan tertutup. Lha ini transparan sekali. Diluar tembok itu ada pohon macem-macem. Ntar kalo ada yang manjat pohon gimana? Yang manjat pasti bisa ngeliat orang yang lagi di kamar mandi. Aduh… gimana dong?
Pikiranku udah kemana-mana saking takutnya ada yang ngintip. Jadinya tiap mandi, aku nggak berani noleh ke belakang. Hehehe…
emang sih, ketakutanku kayaknya mengada-ada banget tapi memang begitu yang aku rasain.
Buat aku, ‘kurangnya’ hotel ini cuma di bagian kamar mandinya. Seandainya dikasih tirai, perfect deh!