Kamis, 21 Januari 2016

Sisters

Apa rasanya memiliki lima kakak perempuan? 
Jika pertanyaan itu diajukan padaku, aku akan dengan mantap menjawab: Tentu saja membahagiakan walaupun kadang-kadang juga menyebalkan. Hahaha. 

Ya, dulu ketika masih kecil, aku memang sering merasa sebel dengan kakak-kakakku. Begitu pun juga sebaliknya. 
Sebagai adik perempuan termuda, aku dulu merasa selalu dipake kalah-kalahan. 
Dalam ingatanku, aku sering dimarahi kakak-kakakku. Mungkin karena akunya yang kelewat bandel kali ya? Hehehe. 
Kejadian tidak menyenangkan yang paling membekas di hatiku yaitu ketika aku SD. Kalau nggak salah waktu itu aku masih kelas 2 SD. 
Hampir setiap hari, aku berangkat dengan membonceng salah satu kakakku yang sekolah di SMP yang satu arah dengan sekolahku. 
Begitu sampai di sekolahku, kakak menyuruhku turun dari boncengan sepeda dengan cara yang kejam. LONCAT! CEPET! AKU UDAH TELAT!!! 
Bayangkan. Anak sekecil diriku disuruh turun dari boncengan dengan cara loncat! KEZAMMMM!!!!

Lalu aku juga pernah tidak 'dianggap' oleh salah satu kakakku -yang lainnya lagi. 
Waktu itu aku diajak jalan-jalan tapi aku disuruh jalan di belakangnya (dikasih jarak sekian meter). Aku nggak boleh berjalan disebelahnya. Dan dia juga mewanti-wantiku: "pokoknya kita kayak nggak kenal ya!". 
Waktu itu mungkin penampilanku terlalu kucel sehingga kakakku -yang sedari kecil gayanya udah paripurna- malu mengakui aku sebagai adiknya. Tapi herannya, kok aku mau-mau aja ya diperlakukan seperti itu? Sama sekali nggak merasa terhina atau merasa terinjak-injak harga diriku. Halah! Aku tetep ngintil dia dengan setia. 
Baru merasa mangkel pas udah gede dan pas inget-inget kejadian itu. Hahaha. 

Kalau mengenang masa kecil itu lucu-lucu menyedihkan rasanya. (Huwopoo iku?). 
Kayaknya dimana-mana yang namanya saudara sekandung, ketika masih kecil banyakan nggak akurnya ya? Hehehe.
Ketika semua sudah beranjak remaja dan kemudian menjadi dewasa (duileee dewasaaaa), ketidakakuran itu hilang entah kemana.
Tentulah namanya manusia, walaupun sekandung tetap aja ada nggak cocoknya. Kadang ada yang nggak pas di hati dan sering juga terjadi 'ketegangan'. Tapi ya nggak pernah berlarut-larut. Tak berapa lama pasti udah kompak lagi. 

Dulu tiap kakak-kakak ngobrol, aku nggak dibolehin nimbrung dengan alasan "masih kecil". Aku sering penasaran. Orang-orang gede itu ngobrolin apa sih? Kenapa aku nggak boleh tau? Dulu aku sering merasa diadiktirikan. 
Itu duluuuu. Sekarang? Sekarang kami bisa ngobrol bareng dengan guyub dan seru. Jangan harap bisa bisik-bisik sendiri. Misalkan dua atau tiga diantara kami sedang ngobrol, kemudian datang yang lainnya, pasti kalimat pertama yang terlontar -dari yang baru gabung- adalah; "piye? Piye? Ada apa?". Hihihi. 

Jarak yang memisahkan beberapa diantara kami tidak lantas membuat kami menjadi jauh. Ya, secara fisik kami memang berjauhan. Tapi hati kami selalu dekat. Uhuk!
Hampir setiap hari selalu ada obrolan seru. Random chat adalah makanan sehari-hari kami. Kami bisa ngobrol soal berita terkini dengan serius lalu nggak lama loncat ke topik lainnya. Dari ngobrolin laktasi, kemudian bahas acara tv lalu ganti ke topik baju. Lain waktu kami lagi ngobrol tentang ilmu parenting. Sedang asyiknya sharing tiba-tiba ada yang OOT bahas resep kue. Kami bisa ngobrol panjang lebar kali tinggi soal tas ransel kemudian ganti ke soal ramekin.  
Ya begitulah, namanya juga perempuan. Hehehe.

Untuk aku pribadi, aku merasa beruntung menjadi adik perempuan termuda. Apalagi setelah aku menikah dan kemudian punya anak. Aku belajar banyak dari kakak-kakakku. 
Tapi ada kejadian lucu. Walaupun kakak-kakakku lebih berpengalaman soal anak tapi mereka pernah kebingungan dan nggak bisa menjawab waktu aku tanya tentang sesuatu. 
Jadi, ketika malak baru lahir aku melihat sesuatu pada salah satu bagian tubuhnya. Untuk memastikan sesuatu itu bukan hal yang membahayakan, bertanyalah aku pada kakak-kakakku. (Karena pada saat itu Ibuk tidak berada di dekatku maka aku bertanya kepada mereka).
"Ini apa ya mbak?" tanyaku sambil menunjukkan sesuatu di lipatan kulit malak.
Mereka satu persatu mengamati lalu masing-masing berkata dengan kalimat yang hampir sama.
"Apa ya ini? Aduh apa ya? Soalnya anak-anakku cowok semua. Jadi nggak tau ini apa. Coba tanya dokter aja untuk lebih pastinya". 
Hihihi. 

Begitu pun dalam hal masak memasak. Kalau abis bikin masakan, kami biasa saling pamer. Pamer, ngiming-ngimingi sekaligus manas-manasin yang lain biar ikutan bikin juga. Dari sini lah kami membuat tagar SisterChallenge. Tantangan buat kami berenam agar semakin semangat belajar masak. Tantangan ini ada syaratnya. Syaratnya: resep harus yang simple dan bahan-bahannya mudah didapat. Jika salah satu dari kami mengajukan resep untuk dijadikan tantangan tetapi resep tsb ribet (baik bahan maupun cara bikinnya), sudah pasti tantangan tsb akan ditolak mentah-mentah. Hahaha. ( Iki challenge model opooo??? ).

Bahagianya memiliki saudara perempuan itu, banyak hal yang bisa dibagi. Tak hanya berbagi cerita, kami biasa pinjem-pinjeman baju, alat make up/kosmetik, aksesoris, sandal dan lain lain -yang bisa dibagi tentunya. Hehehe. 
Jika salah satu dari kami galau ketika hendak membeli suatu barang, tak jarang kami mendiskusikannya terlebih dahulu. Kalau menurut yang lain bagus, ya dibeli. Kalau pada bilang nggak bagus, ya tetep dibeli juga.  Hahahahaha 😝😝✌️✌️. 

Walaupun kini masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri tapi kami selalu ada untuk satu sama lain.
Saling berbagi, saling mencintai, saling mendoakan, saling mengingatkan, saling mendukung, saling menguatkan, That's what sisters are for... 

                         ***

Terimakasih Allah. Aku sangat bersyukur. Memiliki mereka adalah salah satu anugerah indahMu. 

( I love you mbak-mbakku, sayang-sayangku, sahabat-sahabat sejatikuuuu 😘😘😘😘😘 )




Kamis, 14 Januari 2016

Toilet Training

Kemarin (tanggal 13 Januari 2016), akhirnya aku mulai praktek toilet training ke malak. Kenapa "akhirnya"? Ya karena sebenarnya niat untuk bertoilet training sih udah lama tapi tertunda terus karena apalagi kalo bukan malas! *getokpalasendiri*
( Sebenernya beberapa bulan yang lalu udah sempat nyobain toilet training. Tapi karena malak membuatku ngepel 3x dalam hitungan beberapa jam saja, aku pun menyerah. *lambaikantanganpadakamera* ).

Untuk memulainya, memang sangat dibutuhkan niat dan tekad yang membara. Karena apa? Karena si pospak senantiasa menebarkan godaannya. Ia  seperti melambai-lambai ke arah kita dan bilang "udah deh pake aku dulu. Toilet trainingnya kapan-kapan aja". Dudududu....

Tapi karena malak sudah 18 bulan, usia yang cukup ideal untuk mulai bertoilet training (kata beberapa sumber sih), maka aku putuskan untuk segera memulainya. Bismillah!
Sebelumnya, aku udah browsing dulu. Kira-kira apa saja yang perlu disiapkan. Aku juga sudah beli 3 biji training pants untuk persiapan. Rencana mau beli lagi dan sudah hunting di beberapa olshop. Udah milih juga, tinggal order aja lah pokoknya. 
Namun, belum sempat aku order, aku malah terdampar di salah satu thread-nya The Urban Mama yang berjudul "Training Pants". Wah lha kok pas banget. Segera saja ku baca semua komen dalam thread tsb. 
Setelah membaca cerita para mama di thread itu, aku seperti mendapat pencerahan. Halah!
Menurut mama-mama yang sudah lebih dulu berpengalaman, training pants itu nggak terlalu ngefek. Tetep bocor juga. Apalagi kalo pipisnya banyak. Bisa tumpah-tumpah dah. Banyak yang menyarankan untuk membeli celana dalam aja dan memanfaatkan alas ompol atau kain popok jaman bayi untuk sumpelnya. Hihihi. 

Akhirnya rencana menambah koleksi training pants pun kubatalkan. Ganti haluan jadi "hunting celana dalam unyu-unyu". Hehehe. 

Dan saatnya pun tiba.
Kemarin, setelah mandi pagi yang agak kesiangan, malak kupakein celana pop + alas ompol untuk sumpelnya. 
Setelah mandi, dia tidur selama sekitar 2 jam. Bangun tidur, aku cek celananya ternyata sudah basah. Ganti dulu yuuuk.

Selesai berganti celana, aku ajak dia turun untuk bermain bersama sepupu-sepupunya. 
Sampai di depan kamar mandi bawah, malak berdiri mematung sambil memandangi saudara-saudaranya yang tengah asyik bermain. 
Tiba-tiba, wes wes wesss. Malak pipis lagi! Wakwaw!! Dalam hitungan detik, lantai pun basah oleh pipis. Ngepel deh eikeee.
Malaknya sih cuek aja gitu. Nggak ngecipris atau kasih tanda kalo dia ngompol. Pfuihh!! 

Abis ganti celana baru lagi, aku ajak malak jalan-jalan beli celana dalam dan kain pel. Kain pel? Iya.. Dalam beberapa waktu ke depan, bisa dipastikan akan ada adegan ngepel-mengepel lantai. Jadi perlu beli kain pel buat stok. Halah. 
Mudah-mudahan sih adegan ngepelnya nggak sampe berbulan-bulan ya. Aamin.

Kelar belanja, pulang. Sesampainya di rumah, malak langsung main-main lagi. Sekitar 1 jam kemudian, aku ajak dia ke kamar mandi buat pipis. Udah duduk jongkok lumayan lama, eh nggak keluar-keluar juga pipisnya. Ya sudah pake lagi deh celananya.
Setengah jam kemudian, aku liat celananya agak basah. Pas aku cek, ternyata udah ngompol. Untung nggak ada yang tercecer. Jadi nggak perlu ngepel deh eike.
Langsung kubawa lari ke kamar mandi dan kuganti dengan celana baru lagi.
Celana keempat sudah terpasang dan bertahan kering sampai waktunya mandi sore.

Setelah mandi sore, ganti celana baru lagi dong. Celana ke lima untuk hari itu.
Dalam hati berdoa, semoga kering sampai maghrib. Biar pake pospaknya mulai abis maghrib aja.
(Eh lho? Kok masih pake pospak? Ya iya doooong. Kan ini baru latihan. Jadi belum bisa 100% no pospak. Pelan-pelan dulu lah. Hehehe). 

Lima belas menit setelah mandi sore, ketika dia sedang asyik kesana kemari, aku liat celananya nemblong basah gitu. Wakss!! Udah ngompol boooook. Cek cek lokasi, Alhamdulillah belum sampai bocor. Langsung angkut ke kamar mandi deh. 
Abis itu mau kupakein celana pop plus sumpel lagi, kok nanggung ya? Udah lah sekalian aja pakein pospak. Hahaha.

Jadi hari pertama bertoilet training, bisa dibilang lumayan lah. Bisa dari pagi sampe sore. Semoga hari-hari selanjutnya bisa istiqomah. Aamiin. Semangat!!! 









Sabtu, 10 Oktober 2015

Malak's First Birthday

Ya ya ya.. Ini memang very very latepost. Gimana nggak, ultahnya aja bulan Juni kemarin. Ceritanya baru ditulis sekarang. Yasalaaam.

Biarin deh. Mumpung lagi seneng-senengnya nulis. Apa aja ditulis-biarpun telat. Hehehe.

Jadi.. Tanggal 30 Juni 2015 yang lalu, malak genap berusia satu tahun. Yeayyy!!! Nggak nyangka banget. Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku hamil dia, eh sekarang udah gede aja ni bocil. 

Satu tahun pertama bagi ibu baru sepertiku sungguh luar biasa rasanya. Hari-hari dimana ada bayi yang bisanya cuma nangis, nenen, pee dan pup telah berlalu. Begitu pula dengan tumpukan popok kotor yang menggunung setiap harinya. Pemandangan itu kini tak ada lagi. 
Bayi mungil itu kini sudah lincah kesana kemari, sudah makan segala macam makanan, sudah ngecipris rauwis wis. Hihihi.

***

Kurang lebih 2 bulan sebelum Hari-H, aku mulai nyicil beli ini itu buat acara ultahnya. Mmm.. Sebenernya bukan acara sih. Karena emang nggak ada pesta yang ngundang sodara/teman layaknya pesta ultah anak. Aku cuma bikin goodie bag untuk dibagikan ke sodara-sodara dan kerabat.

Nyari ide goodie bag dll lewat browsing kesana kemari. Untung ya sekarang ada instagram dan juga pinterest. Ide-ide segar banyak banget disana. Tinggal dimodifikasi dikit aja -kalo nggak mau sama plek. 

Untuk paper bag-nya, aku pesan di salah satu OS di Yogya. Dapatnya via instagram. Alhamdulillah nemu yang cocok. Desain logonya dibikinin sama adik lanang tercinta. 
Souvenir juga beli online. Sejak punya anak, belanja online memang lebih menyenangkan untukku.

 

Untuk isinya (baca: snack dkk) ya beli di toko terdekat aja lah. Hehehe. 
Selain snack aneka rupa, ada juga nasi plus ayam ala-ala fried chicken gitu. Kenapa milih menu ini bukan nasi kuning kayak yang lainnya? 
Aku sering liat, ponakan-ponakanku kalo dapat nasi kuning goodie bag, sering nggak abis. Kadang yang dimakan cuma nasi sama telur dadarnya doang. Sayur dll dianggurin. Kan sayang. 
Kalo fried chicken, rata-rata anak kecil suka. Jadi yawis, pilih menu itu saja.

Untuk dessertnya, aku bikin puding sutra rasa stroberi. Aku mulai bikin puding setelah malak tidur. Rasanya puasss bisa bikin puding sendiri. Makin seneng lagi pas pada bilang "enaaak". Horee!! *jogedjoged*



***

Walaupun nggak bikin pesta tapi aku tetap nyiapin tempat khusus beserta printilannya untuk malak. Buat foto-foto gitu deh. Hihihi.
Aku pilih pojokan ruang tamu Ibu. Dindingnya aku pasangi bunting flag yang aku buat dari doily paper. 
Kursi makan malak aku hias pake renda dan pita. Selain itu, aku juga nyiapin balon-balon. Balonnya aku pilih yang motif polkadot. Biar kekinian. Belinya online juga lah. 
Aku pengen bikin standing baloon gitu. Tapi nggak mau yang pake karbit karena baunya nggak enak. Akhirnya nyuruh orang buat nyari tukang balon buat ngisi gas. 
Semua ide printilan yang aku ceritain diatas, dapat dari Pinterest. Thanks Pinterest!! 
Jadi biarpun nggak ada pesta tapi tetep bisa foto lucu-lucuan dengan properti khas ulang tahun.

 

***

Dari awal aku memang nggak ada rencana bikin birthday cake buat malak. Selain aku nggak jago bikin cake, aku masi serem kalo ngasih malak makanan manis -walaupun sebenernya sudah boleh. 
Nyari ide lain yang bisa nggantiin birthday cake dan Alhamdulillah nemu. Nemu dimana? lagi-lagi nemu dari Pinterest! 
Jadi 'birthday cake' nggak harus berupa cake asli. Tapi bisa juga dibuat dari potongan buah yang disusun terus atasnya dikasih lilin. Cucok bener ini. Malak kan pengikut food combining jadi pas banget. Yes!!

 

Tau kalo nggak ada kue tart ultah, mbakyu2 heboh. "Kok nggak bikin cake sih? Kan ultah? Blablabla. Sini aku bikinin". Asyiiiiikk!!! Thanks mbak-mbakkuuu 😘😘😘.
Lalu dibikinlah brownies kukus yang dihias dengan selai stroberi. Yummy!!




Malam hari selepas buka puasa, malak dan beberapa kakak sepupunya ngumpul untuk tiup lilin dan potong kue. Oh dan tentu saja foto-foto dong. Akhirnya tetep ada pestanya juga. Pesta kecil-kecilan nan sederhana namun penuh makna. Halah! 
Selesai makan kue dan foto-foto, selesai juga lah segala kerempongan hari itu. Pfuiiihhh!!! Seneng, puas, lega, terharu jadi satu. Alhamdulillah. Terimakasih untuk semuanya yang sudah bantuin. Jazaakumullah 😘😘😘😘😘.





 








***

Dear Malak, doa-doa indah selalu mengiringimu nak. Semoga engkau panjang umur, sehat selalu dan jadi anak solehah kebanggaan Bapak dan Ibu. 
I love you malak saugandhika....























Rabu, 30 September 2015

Piknik 27 September 2015

Hari Minggu kemarin aku dan malak diajak Mbak Iey piknik ke Kampoeng Bluron di Tempuran Blora.
Langsung aku iyain aja lah ajakannya. Daripada di rumah aja, sepi. Hehehe.
Sehari sebelum berangkat, rembugan jam berangkatnya. Semula disepakati berangkat jam tujuh pagi. Samih lalu usul: jangan jam tujuh. Jam enam aja. Nanti kalo kesiangan keburu rame tempatnya. Oke deh sepakat jam enam pagi.

Hari H tiba. 
Sebelum subuh aku udah bangun. Abis sholat Isya, aku langsung bikin puding sutra buat bekal si Malak. Masak rampung pas azan Subuh.
Ini penampakan puding sutranya:


Dari dalam kamar mbak Iey, aku dengar suara alarm berbunyi. Nggak cuma satuz tapi dua alarm berdering bersahut-sahutan. Wah kayaknya serius nih mau berangkat pagi-pagi bener. Pada pasang alarm, batinku.
Tapi ternyata oh ternyata, sampai jam enam belum ada yang siap. Hihihi. Samih yang usul malah belum bangun. Hedeeeeh.
Akhirnya rombongan baru berangkat jam setengah delapan pagi. Huihihihi.

Jam setengah sembilan kurang kami sudah sampai di lokasi. Masih sepiii banget. Pas masuk ke arena wisatanya, baru ada tiga pengunjung.
Anak-anak langsung secepat kilat ganti baju dan byuuurrrr, nyemplung deh ke kolam renang.
(Oya, jadi Kampoeng Bluron ini di dalamnya cuma ada waterboom, taman-taman dan restoran yang berbentuk gazebo. Tiket masuknya weekdays: Rp.10.000,00 per orang, weekend: Rp.15.000,00 per orang).
Malak nggak berani nyemplung jadi ya jalan-jalan aja di tamannya. Sambil sesekali dadah-dadah ke mas-masnya. Sempat sih ganti baju renang sebentar tapi dia nggak mau masuk ke kolamnya. Cuma mau duduk-duduk di pinggir kolam. Yawis, akhire ganti baju lagi deh. 


(Mupeng liat yang pada berenang 😂😂)

Jam sepuluh, Sakhiy keluar dari kolam. Badannya udah menghitam dan menggigil. Kedua masnya kulihat masih asyik main perosotan. 
Tiba-tiba dari arah pintu masuk terdengar  suara gaduh. Ternyata ada rombongan anak-anak dalam jumlah besar datang. 
Segera kupanggil Samih dan Rooqy. Aku kasih isyarat untul segera keluar dari kolam. Sempat mau nolak mereka. Tapi begitu melihat ada rombongan anak-anak datang berduyun-duyun, mereka langsung manut. 

Setelah anak-anak mandi, kami pesan makanan dan minuman. 
Menu yang ditawarkan hanya ada gurame dan kakap saja. Tak ada ikan lainnya, ayam, kambing ataupun sapi. Kalo yang nggak suka ikan ya alamat dehh. Hahahaha.
Makanan datang lansung pada kalap tuh anak-anak yang abis renang. 

(Wajah kekenyangan 😋😋😋)

Selasai makan, kami pun meninggalkan Kampoeng Bluron dan menuju Kampoeng Gojekan yang berjarak kurang lebih 500 m.
Sebelum pulang, foto-foto dulu laaaah.

(Namanya emak-emak ye. Kemana-mana bawa tas segede gaban. Pas kelar foto baru sadar. Kenapa tadi nggak ditaruh dulu ya itu tas? 😓)


Nggak nyampe sepuluh menit kami sudah tiba di lokasi Kampoeng Gojekan. Begitu turun dari mobil, masyaAllah panasnyaaaa!! Pepohonannya masih kurang banyak jadi kurang rindang deh.

Tiket masuknya masih gratis karena masih masa promo. Lumayan lah. Hehehehe.
Ada beberapa permainan yang ditawarkan. ATV, Motor trail, perahu dayung, istana balon dan balon besar yang bisa gelinding diatas air itu apa itu namanya ya? Yawis pokoke itu lah 😁😝.

Samih milih naik motor trail, Sakhiy dan Papahnya naik ATV. Tiket untuk naik satu unit motor Rp.20.000,00. 


Aku, Malak dan Rooqy milih istana balon. Tiket masuk ke istana balon Rp.5000,00 per orang. Malak mah belum diitung. Sementara itu Mbak Iey dan Maiya menunggu dengan duduk santai di gazebo. 

Pertama kali masuk ke istana balon, Malak masih takut-takut. Dia nggamblok terus. Nggak mau lepas dari pelukanku. 
Setelah beberapa menit, dia mau duduk sendiri tapi masi pegangan aku. Lihat Rooqy jumpalitan, lama-lama dia pengen juga. Pelan-pelan dia merangkak mendekati Rooqy. Nggak lama udah deh keasyikan! Guling sana guling sini sambil ketawa dan jerit-jerit heboh 😓😓.
Sekitar setengah jam kami main di istana balon. Karena hari semakin siang dan semakin panas, kami pun memutuskan untuk pulang. Tapi Samih masih minta main satu kali lagi. Yaudah akhirnya 
nambah main satu permainan lagi. 


Sekitar jam duabelas siang kami pun meninggalkan Kampoeng Gojekan. Sebelum pulang ke Rembang, kami sempatkan dulu mampir ke Toko Kurnia untuk beli roti jagung yang legendaris itu. Tapiiii sampai di toko tsb, rotinya belum datang sodara-sodara. Sore baru datang. Yaaaah penonton kecewa. *gigitjari*

Sekitar satu jam kemudian, kami sudah sampai di rumah dengan selamat sentosa bahagia dan capek membahana. Halah! Alhamdulillah.

Seneng deh bisa bawa Malak ke tempat-tempat baru. Nyobain hal-hal baru. Capek jelas tapi seruuu!
Piknik berikutnya kemana ya enaknya? 😊😊










Jumat, 19 Juni 2015

Selamat Berpuasa

Bulan puasa tahun kemarin, aku pas lagi rempong-rempongnya dengan si bayi imut mungil. Bayi mungil yang udah nggak sabar pengen liat gebyarnya dunia dan akhirnya lahir sebulan sebelum HPL. Karena lahir di hari kedua puasa, alhasil emaknya utang puasa sebulan penuh. Ulalalaaaa. 
Utang sebulan penuh tahun lalu cuma bisa terbayar satu gara-gara aku lemes tak berdaya. Saking lemesnya sampe kayak gombal deh. Tapi masak sih bulan puasa tahun ini mau numpuk utang lagi? 
Dengan niat penuh serta doa kenceng, aku bertekad tetap puasa walaupun  sedang menyusui. Alhamdulillah si bocil udah makan juga jadi nggak full ASI. Tapi ya teteeeep aja lemes. Alhamdulillah biarpun lemes dan mata prepet-prepet, tetap kuat puasa sampai maghrib. Begitu buka, Subhanallah... Rasanya nikmaaaattttt. Hihihi. 
Mudah-mudahan puasa kali ini lancar jaya. Bismillah kuat kuat!! Semangat!


Sabtu, 23 Mei 2015

Drama Kehamilan Berujung Bahagia


Bulan November 2013, aku mendapat hadiah tak ternilai dari Tuhan. 
Tak biasanya haidku telat. Waktu itu aku sudah deg-degan dan berharap-harap cemas. Tapi aku nggak langsung cek pake testpack. Aku takut kecewa lagi seperti sebelumnya. Baru setelah telat lebih dari seminggu, aku memberanikan diri membeli testpack. Masih kuingat jelas, bagaimana campur aduknya perasaanku menunggu hasil testpack. Ketika akhirnya kulihat ada dua garis merah tipis pada testpack, aku masih belum berani untuk bergembira. Aku masih ragu. Kok garisnya samar ya? Apakah memang begini tandanya kalo positif? Aku bertanya-tanya sendiri dan lalu memutuskan untuk mengulang kembali keesokan harinya. 
Pagi berikutnya pun tiba. Dengan takut-takut kulihat hasil testpack-ku. Mataku seketika berbinar. Dua garis merah tampak jelas disana. Segera kuperlihatkan hasil testpack tersebut pada suami, Ibu dan juga kakak-kakakku. Kecuali suamiku, semua mengatakan: "InsyaAllah iya hamil. Segera ke dokter kandungan untuk memastikan". Tak menunggu lama, aku dan suami pun segera pergi ke dokter. Perasaan bahagia membuncah di dada. Sampai di klinik, rasa bahagia itu dipatahkan oleh perawat yang mengabarkan; "Ibu, harus bikin perjanjian dulu kalau mau periksa. Karena pasien dibatasi. Paling tidak, daftarnya tiga hari sebelum periksa". 
(Di kotaku baru ada satu orang dokter kandungan yang wanita dan pasiennya banyak sekali. Tak heran jika harus 'antri' beberapa hari sebelum bertemu sang dokter).
Menunggu tiga hari rasanya lama sekali. Ketika harinya tiba dan bu dokter yang telah selesai memeriksaku mengatakan; "selamat, kehamilan Ibu sudah tiga minggu", aku tak henti-hentinya mengucap syukur. Alhamdulillah terimakasih Ya Allah. 
Allah mengijabah doa kami setelah hampir lima tahun kami menanti dan bermacam ihtiar kami lakukan. Alhamdulillah, Alhamdulillah.

Begitu aku dinyatakan hamil, mulai saat itu pula aku harus banyak merubah kebiasaanku selama ini. Stop makan makanan instan, makan harus lebih teratur, stop traveling, nggak boleh kebanyakan aktifitas, nggak boleh terlalu capek dll. 

Seperti umumnya wanita hamil, aku juga merasakan ngidam. Untung ngidamnya bukan yang aneh-aneh. Paling cuma pengen makan ini-itu aja. Mual juga kualami tapi hanya jika mencium bau yang menyengat. Alhamdulillah cuma mual saja nggak sampai muntah-muntah. 
Selain ngidam, ada perubahan mencolok yang terjadi saat aku hamil.  Wajahku rusak oleh jerawat. Seluruh wajahku berjerawat. Bahkan tidak hanya wajah, badanku pun berjerawat. Yang namanya punggung, rata dengan jerawat! Pengen nangis tiap kali liat bayangan diri di kaca. Karena jerawat yang merajalela aku jadi camera phobia dan juga nggak pede tiap bertemu saudara atau kerabat. Karena tiap bertemu orang, mereka akan berkomentar sama. "Kok wajahnya jadi rusak ya? Jerawatan banget". Duuuuh..
Selain jerawat, suaraku juga berubah jadi berat. Ngebass kayak suara laki-laki. Banyak saudara yang terheran-heran dengan perubahan suaraku. Jangankan mereka, aku sendiri juga heran kok. 

Sampai usia kehamilanku tujuh bulan, semuanya lancar jaya. Aku bahkan sempat pergi ke luar kota demi untuk menyaksikan sepupu menikah dan sekalian nyicil belanja kebutuhan bayi. Hehehe. 


Drama kehamilanku dimulai ketika memasuki minggu ke-32. Waktu itu aku terbangun sebelum subuh. Masih dengan terkantuk-kantuk dan nyaea yang belum sepenuhnya nempel, aku berjalan malas ke kamar mandi. Selesai pipis aku lanjut gosok gigi. 
Ketika sedang menggosok gigi, aku merasakan ada sesuatu yang menetes jatuh. Aku lihat ke bawah dan seketika itu kantukku lenyap entah kemana. Ada tetesan darah di dekat kakiku. Dan beberapa detik kemudian, darah pun mengalir deras. Aku terduduk lemas di closet. Sambil menangis ketakutan, aku usap-usap perut dan kukatakan berkali-kali pada makhluk kecil yang berada di dalamnya. "Adik nggak papa kan? Adik sehat kan? Adik kuat ya! Adik kuatkan Ibu ya!". 
Darah sempat berhenti sebentar. Tapi lalu keluar lagi. Kupanggil-panggil suamiku yang sedang tidur. Dengan tergopoh-gopoh dia menghampiriku dan diapun syok melihat apa yang terjadi. Suamiku berusaha menenangkanku dengan bilang "jangan panik ya. Tenang ya" tapi nada suaranya sendiri terdengar panik.
Saat itu sungguh aku ketakutan. Dengan susah payah aku berusaha untuk bisa tenang. Bayangan buruk yang melintas di kepala, aku usir jauh-jauh.
Setelah darah berhenti mengalir, kubersihkan diri dan lalu segera kembali ke tempat tidur untuk istirahat. 
Sekitar jam sembilan pagi, aku dan suami pergi ke klinik untuk memeriksakan kondisiku. Karena kondisi darurat, aku dipersilahkan 'menerjang' antrian dan jadi pasien pertama yang masuk ruang periksa. 
Pemeriksaan melalui USG segera dilakukan. Melalui USG, diketahui kalo pendarahan yang kualami karena placenta previa. Dokter memerintahkan aku untuk bedrest. Perintah berikutnya membuatku semakin ketakutan. Dokter juga meminta aku untuk mulai menyiapkan  pendonor darah. Aku diminta untuk menghubungi saudara-saudara yang memiliki golongan darah yang sama denganku. Ketika kutanya, kenapa harus begitu, dokter menjawab "karena jika terjadi pendarahan lagi, Ibu akan butuh banyak darah untuk mengganti darah yang keluar. Dan juga Ibu harus siap kalo bayi Ibu terpaksa harus dikeluarkan sebelum HPL alias prematur. Karena akan sangat berbahaya jika memaksa untuk terus mempertahankan kehamilan sampai dengan hari H, sementara Ibu mengalami pendarahan terus". 

Pulang dari klinik, perasaanku makin nggak karuan. Sedih, galau, takut bercampur jadi satu. Doa dan support dari orang-orang tercintaku lah yang menguatkanku kala itu. 
Aku yang seumur-umur belum pernah  bedrest, awalnya sempat agak stres. Aku hanya turun dari tempat tidur untuk urusan kamar mandi. Selebihnya semua kulakukan diatas kasur. 
Untuk mengalihkan kejenuhan, aku mulai browsing tentang placenta previa. Entah berapa puluh artikel yang habis kubaca. Dari situ, aku mulai mempersiapkan diri. Untuk Ibu hamil dengan kasus placenta previa, tidak disarankan untuk melahirkan secara normal karena akan membahayakan ibu dan bayi. 
Aku yang dari awal bercita-cita ingin melahirkan normal, perlahan-lahan mulai mengubur cita-cita itu. Sempat sedih tapi aku lalu tersadarkan oleh nasihat dari salah satu kakakku; Tak perlu berkecil hati karena tidak bisa melahirkan normal. Melahirkan normal maupun caesar, toh nantinya sama-sama tetap jadi Ibu kan? 

Aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk bedrest. Tapi ternyata bedrest yang kulakukan tidak berhasil. Lima hari setelah pendarahan yang pertama, aku mengalami pendarahan lagi. Ya Allah.. 
Tidak ada waktu untuk terus menangis dan  bersedih-sedih meratapi kondisi. Aku dan suami bergegas menuju dokter. Karena ingin  mencari second opinion, kami pun datang ke dokter kandungan yang lain. Sempat rikuh sendiri karena dokternya laki-laki. Tapi karena darurat dan suami juga mengijinkan ya sudah lah ditahan-tahan malunya. Dokter yang laki-laki ini dokter kandungan senior di kotaku. Orangnya lebih santai. Beliau hanya berpesan tetap bedrest. Kalau nggak mau di rumah sakit ya nggak papa bedrest di rumah yang penting bedrest. 
Kalo bedrest sebelumnya, aku masih ke kamar mandi untuk pipis, mandi dan juga pup. Bedrest kedua, aku hanya ke kamar mandi untuk pup. Aku terpaksa beli pispot dan juga diaper untuk pipis. Mandi hanya diusap pake handuk dan air hangat saja. Entah seperti apa kucelnya aku ketika itu. 
Aku kuat-kuatkan diri. Biar lah rambut  lepek, muka kucel, badan bau asem,  yang penting nggak pendarahan lagi. Tapi ternyata aku keliru. Seminggu berikutnya aku mengalami pendarahan untuk yang ketiga kalinya. 
Dokter senior yang kudatangi kala itu sedang tidak praktek dan diganti oleh dokter residen. Dokter residen pun  meminta aku untuk tetap bedrest tapi beliau menyarankan aku untuk bedrest di rumah sakit. Saran beliau tidak kuturuti. Aku tetap memilih bedrest di rumah. 

Seminggu kemudian aku mengalami pendarahan lagi. Lebih deras dari pendarahan yang ketiga. Kuhubungi klinik untuk memastikan apakah dokter praktek pada hari itu. Dan ternyata sang dokter sedang ada tugas keluar kota dan baru akan kembali dua hari lagi. 
Takut terjadi apa-apa jika harus menunggu dua hari -sampai dokternya pulang dari luar kota- aku dan suami memutuskan untuk mencari third opinion ke luar kota (satu jam perjalanan dari kota kami). 
Sesampainya kami di Rumah Sakit, aku segera dibawa ke ruang UGD untuk diperiksa tekanan darah dll. Kurang lebih satu jam, aku baru ketemu dengan dokter kandungan yang akan menanganiku. Kusampaikan pada beliau kondisi kehamilanku dari awal secara ringkas. Setelah diperiksa, dokter mengatakan kalau aku sudah mengalami kontraksi. 
Aku yang saat itu tidak merasakan mulas ataupun sakit perut layaknya wanita hamil yang sedang kontraksi, dengan lugunya berkata pada sang dokter; "Tapi saya nggak merasa mules-mules dok. Cuma pendarahan aja. Tapi nggak sakit". 
Jawab dokternya: "Ibu, tanda-tanda kontraksi bukan hanya mules atau sakit perut saja. Perut kencang juga termasuk salah satu tandanya. Ini lihat perut Ibu kenceng kan?". 
Oleh dokter, aku diberi obat untuk mengurangi kontraksi. Kata dokternya, semoga bisa bertahan sampai HPL. Kalaupun ternyata harus prematur, paling enggak ditunggu seminggu lagi. 
Dokter juga mengharuskanku untuk totally bedrest. Dan jadilah, untuk pertama kali dalam hidupku aku merasakan tinggal di rumah sakit. Dan yang lebih menyiksa lagi, aku sama sekali tidak boleh turun dari tempat tidur. Hiks. 

Malam pertama di rumah sakit kulalui dengan gelisah. Aku tidak bisa tidur. Per sekian jam, perawat datang untuk memeriksa detak jantung bayiku. Alhamdulillah hasilnya selalu bagus. Tiga hari berlalu belum ada tanda-tanda kontraksiku mereda. Perut masih sering terasa kencang. HBku juga rendah. Terpaksa harus dilakukan transfusi darah. Total aku menghabiskan sembilan kantong darah selama di rumah sakit.
Hari keempat, aku merasakan perutku semakin kencang. Punggungku juga terasa sakit. Aku sama sekali tidak bisa tidur. Puncaknya ketika tengah malam badanku semakin terasa sakit. Perawat segera menghubungi dokter untuk mengabarkan kondisiku. Tak berapa lama, perawat datang lagi ke kamar dan bertanya: "Ibu, kalau dilakukan operasi sekarang bagaimana? Dokternya siap kalau mau operasi malam ini. Dokter khawatir nanti keburu terjadi pendarahan lagi. Karena akan lebih berbahaya". 
Aku yang masih kesakitan tentu saja menolak. "Jangan malam ini mbak. Saya belum tidur seharian ini. Saya belum mempersiapkan diri juga mbak. Kalau ditunda dulu gimana mbak? Saya usahakan tidur dulu barang beberapa jam". 
Perawat minta ijin untuk menelpon dokter lagi terlebih dahulu sebelum mengiyakan permintaanku.
Tak sampai sepuluh menit, dia sudah kembali ke kamar. "Dokter membolehkan Bu. Besok jam 9 pagi operasinya ya Bu. Mulai sekarang Ibu puasa". 
Suamiku lalu menelpon orangtua di rumah untuk meminta persetujuan. Semua setuju. Dokter yang lebih paham kondisi pasien. Kalau memang harus dilahirkan sekarang ya sudah ikut kata dokter saja. Begitu kata orangtua kami. 

Aku tidak bisa menggambarkan perasaanku saat itu. Ternyata begini rasanya kalau mau melahirkan. Sungguh mendebarkan. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tidur. Akhirnya aku bisa tidur walaupun hanya sekitar dua jam. 

Dan saat yang mendebarkan pun tiba. Hari Senin tanggal 30 Juni 2014, pagi-pagi perawat sudah mulai menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan operasiku. Jam setengah sembilan aku dibawa menuju ke ruang operasi. Ya Allah, kurasakan keringat dingin di tubuhku. Aku nervous berat. Mulutku tak berhenti mengucap doa dan salawat. Memohon yang terbaik dariNya.
Jam sembilan, dokterku datang. Sebelum berganti pakaian, beliau menghampiriku yang masih berada di depan ruang operasi. Dengan ramah beliau menyapa dan menyemangatiku. "Tenang ya Bu. Nggak papa. Nggak usah takut. Jangan tegang. Berdoa ya Bu". Sepertinya beliau bisa membaca ketakutan dan ketegangan di wajahku.
Sesaat sebelum aku masuk ruang operasi, perawat mempersilahkan aku dan suami untuk berdoa bersama. "Silahkan Bapak Ibu berdoa terlebih dahulu". 
Selesai berdoa, aku pamit masuk ke ruang operasi. Kucium tangan suamiku, kuminta dia untuk terus berdoa. Dia menyemangatiku dan berusaha kelihatan tenang. Tapi wajahnya tak bisa menipu. Dia pun cemas, sama sepertiku. 

Di dalam ruang operasi, badanku gemeteran. Entah karena suhu kamarnya yang terlalu dingin atau karena aku terlalu nervous. Keringat dingin semakin membanjiri tubuhku. Ya Allah kuatkan aku. Kuatkan aku. 
Aku hanya dibius lokal. Jadi aku bisa mendengar semua percakapan dan segala macam bunyi yang terjadi dalam ruang operasi tersebut. Termasuk bunyi gunting dan alat operasi lainnya yang dipegang dokter. 
Setengah jam berlalu dan kemudian salah seorang perawat mendekatiku. "Ibu bantu dorong ya. Hitungan ketiga ya Ibu. Satu, dua, tiga!!! Kudorong badanku sekuat tenaga dan beberapa detik kemudian kudengar tangis bayi pecah dengan kencangnya. Subhanallah. Alhamdulillah. Terimakasih Ya Allah.
Airmataku mengalir deras. Sambil menangis kupandangi bayiku yang sedang dibersihkan oleh perawat. Setelah bersih dan dibalut selimut, perawat menghampiriku sebentar. "Bu, selamat ya. Anak Ibu perempuan. Saya bawa keluar dulu biar diazani bapaknya". Kucium pelan pipi anakku dan airmataku jatuh lagi dengan derasnya. 
Alhamdulillah, tak henti-hentinya aku mengucap syukur. Terimakasih atas anugerahMu yang sungguh indah. Hari-hari penuh drama telah berlalu. Dan drama kehamilanku pun berakhir dengan hadirnya bidadari kecil nan cantik. Alhamdulillah. Terimakasih Allah..




Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Pregnancy Story Writing Competition oleh NUK Baby Indonesia.




Rabu, 23 April 2014

Terimakasih Ya Allah


Setelah sekian lama dianggurin, akhirnya bisa juga nyempetin diri buat nengokin blog (sok sibuk bener ya? hehehe).

Terlalu banyak cerita ingin ku tulis namun ujung-ujungnya hanya mentok sampai di angan-angan saja. Susah untuk merealisasikannya menjadi sebuah tulisan *sigh*

Tapiiiiiii ada satu kabar super bahagia yang paling ingin aku tulis di sini. 
Alhamdulillah.. Allah memberiku anugerah terindah dalam hidup. Ya.. setelah menunggu hampir 5 tahun, ternyata saat ini adalah saat yang dipilih Tuhan untuk menitipkan amanahNya kepadaku. 
Rasa bahagia tidak bisa terungkapkan. kata-kata mungkin tak akan bisa menuliskan seberapa bahagianya diriku. aku hanya bisa mengucap dan selalu berucap:  Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih Tuhanku. 

Telat memang ya kalo baru sekarang aku tergerak untuk menulis cerita mengenai kehamilanku. yaaah, telat nggak papa lah ya daripada nggak sama sekali. hehehe..