Jumat, 05 Februari 2016

Baju Muslimah Dulu dan Kini

Melihat perkembangan busana muslim saat ini, para muslimah -khususnya- sudah sepatutnya bersyukur. 
Sekarang nyari baju muslim gampang banget. 
Bandingkan dengan jaman dulu. Pilihan baju muslim masih sangat terbatas. Dulu itu paling cuma pake blus/kemeja terus bawahnya celana/rok. Udah. 
Sekarang? Ada wings skirt, wings dress, blus batwing, long cardigan, bolero, blus hoodie, harem pants, gamis tie dye, gamis jersey, gamis syar'i dll.  
Banyak pilihan ditawarkan. Mau yang model simple atau yang 'ajaib' ada semua. Tinggal pilih yang cocok dengan badan dan -tentu saja- dompet kita. Hehehe. 

Beberapa waktu yang lalu, baju tie dye ala Dian Pelangi booming banget. Baju berwarna-warni ada dimana-mana. 
Kemudian saat Puput Melati muncul dengan baju hoodie rancangan Ria Miranda, tak lama muncul tren 'hoodie Puput Melati'. Dan orang pun rame-rame berhoodie ria. 
Lalu muncul tren dress cantik yang panjang melambai-lambai. dengan perpaduan warna yang eye catching. Kalau sebelumnya tiap ke acara kawinan, baju andalan adalah kebaya modern, sekarang lebih banyak yang pake dress panjang menyapu lantai 😁. 
Sejak setahun lalu -kalau nggak salah- gamis syar'i mulai menjamur. Gamis lebar dengan desain simple plus kerudungnya yang juga lebar jadi pilihan banyak muslimah Indonesia. Aku termasuk yang berbahagia dengan adanya tren gamis syar'i ini. Jika sebelumnya aku selalu kesulitan membeli baju dengan ukuran panjang yang pas -karena kebanyakan baju yang dijual adalah baju dengan ukuran rata-rata, sementara tinggiku diatas rata-rata- kini aku bisa dengan mudah membeli baju karena sekarang banyak baju yang dibuat dengan ukuran serba panjang dan lebar. Asyik!

Setelah tren baju panjang melambai menyapu lantai menutup dada menutup kaki, kini yang sedang 'berjaya' adalah baju bernuansa monochrome dengan desain yang unik. Baju miring sebelah, depan pendek belakang panjang, kiri panjang kanan pendek dan masih banyak lagi model baju yang -menurutku- ajaib. 
Hanya orang-orang dengan kadar pede tinggi yang sanggup memakainya. Hehehe ✌️✌️. 

Tak hanya baju saja yang berkembang dahsyat. Penutup kepala pun juga. 
Duluu mungkin pilihan yang ada  cuma kerudung -yang biasa dipakai ibu-ibu- dan jilbab berbahan katun yang tepinya dibordir. 
Sekarang? Ada pasmina rawis, silk, viscose, sifon, cerruti, bergo rumana dll dll.
Dalaman jilbab pun bermacam-macam pilihannya. Ada ciput marshanda, ciput risty tagor, ninja, anti tembem dan entah apalagi namanya.
Kalau dulu mah cukup pake handuk putih 'Good Morning' yang legendaris itu. Hihihi. 

Dulu, desainer busana muslim bisa dihitung dengan jari. Yang aku tau cuma Ida Royani dan Ida Leman. Hehehe.
(Oya ngomong-ngomong soal Ida Leman, belasan tahun yang lalu sempat ada tren 'baju muslim Ida Leman'. Masih ada yang ingat? Baju atasan panjang, bawahan celana plus kerudung 'slubukan' yang kain tepi kerudungnya sama dengan kain bajunya. Jaman dulu kalo ada yang pake baju model Ida Leman itu: we o we deh! Hihihi).
Sekarang, desainer baju muslim banyak bangettttt. Artis berhijab ataupun Hijaber bukan artis tapi punya banyak follower di sosmednya, hampir semuanya jadi desainer. 
Seneng sih lihatnya tapi sayang harga  bajunya mahal. Hahaha. 

Yang namanya wanita, pastilah senang dandan cantik. Pake baju cantik, kerudung cantik. Siapa yang nggak suka? Apalagi kalo harganya bersahabat, pasti suka bangeeeeeet. Yakan yakan? 😝😝
Tapi sekarang sepertinya kalau membeli baju atau kerudung jangan cuma dilihat modelnya bagus atau enggak. Pantes atau enggak. Tapi mesti dicek juga halal atau enggak. Eh??!!  😷😷
#ceritaalmas #ceritaJumat #Jumatmenulis

Ayo Mondok!

(Tulisan ini sudah kubuat Jum'at kemarin. Tapi lupa ku posting di blog ini. Jadi sekarang aja deh mostingnya. Hihihi).

Hari Jum'at adalah hari 'spesial' bagi para wali santri putri Raudlatut Thalibin. Kenapa? Karena hanya di hari ini lah, beliau-beliau diperkenankan untuk menengok anak-anaknya.
Sebelum-sebelumnya, tidak ada waktu khusus berkunjung. Datang setiap hari pun boleh. Tetapi, sejak 3 bulan yang lalu, kami -para pembina dan pengurus pondok- menetapkan beberapa peraturan baru, salah satunya ya tentang waktu berkunjung ini. 
(Aku jadi ingat saat sosialisasi peraturan baru, beberapa bulan yang lalu. Sebelum bertemu para walisantri, aku sempat deg-degan. Kuatir kalo peraturan baru tsb menuai protes. Belum-belum aku udah parno duluan.  Tapi Alhamdulillah, kekhawatiranku tidak terjadi).

Jum'at siang tadi, ketika sedang menemani malak bermain di depan rumah, aku melihat ada salah satu wali santri datang sambil membawa satu kardus berukuran cukup besar. Pasti itu 'tanda cinta' untuk anaknya. 
aku jadi membayangkan ekspresi bahagia si anak ketika menerima kardus tsb. (Entah apapun isi di dalam kardus itu, aku rasa setiap santri yang dijenguk orangtuanya sambil dibawakan 'tanda cinta' pasti lah bahagia. Hehehe). 

Pemandangan yang kulihat siang tadi, mengingatkan aku pada masa-masa nyantri dulu. 
Dulu, aku sangat bahagia tiap kali dikasih tau ada Abah Ibuk rawuh ke pondok. Kebahagiaanku semakin bertambah begitu melihat kardus bertuliskan "almas" yang dibawa Abah Ibuk dari rumah. Alhamdulillah....
Tentu saja bukan aku saja yang merasa bahagia, teman satu kamar pun ikut bahagia. Hahaha. 
Ya, setiap ada yang abis dikunjungi orangtuanya, yang lain pun ikut bergembira. 
Kalau tinggal di kost, mungkin oleh-oleh satu kardus itu bisa berumur lama atau agak lama ya? Tapi kalau di pondok, bisa bertahan sampai seminggu itu udah wow banget.
Seingatku, begitu kardus dibuka, isinya akan habis dalam beberapa hari saja. Hahaha.
Kecuali kalo yang abis dapat kardus terus kardusnya dimasukin ke lemari. Ya pasti awet deh isinya. Hihihi tapi dijamin yang seperti itu bakalan jadi rasan-rasan seantero pondok 😝😝.  

Jadi ingat, pernah dapat cerita. Ada seorang santri yang bakhil. Tiap abis dapat kiriman makanan disimpan sendiri. Alhasil, teman-temannya pun jengkel. Lalu lemari -tempat menyimpan makanan- si santri bakhil itu pun digoyang-goyangkan sedemikian rupa sampai isinya tumpah ruah dan mengotori isi lemari.   

Cerita itu membekas sekali diingatanku dan seperti menjadi sebuah reminder untukku. 
Dan ketika aku akan berangkat mondok pun, pesan pertama Abah untukku bukan "yang krasan di pondok ya!" atau "ngaji yang rajin ya!" tapi Beliau berpesan "Jangan bakhil!". Pesan yang kuingat terus sampai detik ini. 

Di pondok kita hidup dengan banyak orang. Itu artinya kita mesti siap berbagi. Kalau nggak mau berbagi ya... tanggung sendiri deh akibatnya. 
Nggak hanya soal berbagi saja, ada banyak hal berharga yang aku dapatkan ketika mondok dulu.
Hidup dengan banyak orang, membuatku belajar untuk mengenal berbagai macam karakter manusia. Awal-awal sempat kaget tiap kali bertemu dengan kawan yang entah kenapa setiap dia ngomong selalu terdengar nggak enak di telinga. Sempet mangkel, sakit hati dan blablabla. Lha tapi masak mau berlama-lama mangkelnya? Mana setiap hari ketemu. Akhirnya lama-lama terbiasa juga. 
Aku sendiri pun juga jadi belajar untuk lebih berhati-hati kalau ngomong. Karena beberapa kali juga aku pernah bikin orang mangkel/sakit hati karena omonganku. Dari kejadian itu aku belajar untuk nggak sakpenake dewe. ceplas ceplos boleh lah tapi jangan kelewatan. Intinya sih belajar mengerti, mengenal dan menghargai orang lain. 

Selain itu, aku juga belajar untuk nggak gampang menyerah pada keadaan. (Wiih bahasakuu...).
Hidup dengan berbagai macam aturan, nggak boleh ini nggak boleh itu, apa-apa dibatasi bikin sebel sih memang. Tapi itu juga yang bikin kuat. aku kayak dilatih untuk bisa menahan hawa nafsu. Hehehe. 
Terus, karena banyak teman, kalau mau aneh-aneh, banyak yang ngingetin. Kalau sedih, banyak yang menghibur, kalau merasa udah nggak kuat pengen nyerah, banyak yang menyemangati. Kalau nggak punya duit, banyak yang bisa diutangi. Hihihi. Yang terakhir nih yang paling top. Namanya santri, paling nggak enak tuh kalo keabisan duit. Yakan? Yakan? Hahahaha... 😝😝😝.

Dulu, banyak hal yang tampak tidak menyenangkan. Hidup serba dibatasi, nggak bisa berlaku sesuka hati. Tapi kini, mengingat itu semua aku jadi bersyukur. Betapa beruntungnya aku pernah merasakan hidup di pondok. Alhamdulillah. 
Yang belum pernah mondok, Ayo Mondok! 😁😁

(Maafkan, kalimat penutupnya terdengar wagu. Kehabisan kata-kata sodara-sodara. ✌️✌️)
#ceritaalmas #ceritajumat #Jumatmenulis #ayomondok 

Kamis, 21 Januari 2016

Sisters

Apa rasanya memiliki lima kakak perempuan? 
Jika pertanyaan itu diajukan padaku, aku akan dengan mantap menjawab: Tentu saja membahagiakan walaupun kadang-kadang juga menyebalkan. Hahaha. 

Ya, dulu ketika masih kecil, aku memang sering merasa sebel dengan kakak-kakakku. Begitu pun juga sebaliknya. 
Sebagai adik perempuan termuda, aku dulu merasa selalu dipake kalah-kalahan. 
Dalam ingatanku, aku sering dimarahi kakak-kakakku. Mungkin karena akunya yang kelewat bandel kali ya? Hehehe. 
Kejadian tidak menyenangkan yang paling membekas di hatiku yaitu ketika aku SD. Kalau nggak salah waktu itu aku masih kelas 2 SD. 
Hampir setiap hari, aku berangkat dengan membonceng salah satu kakakku yang sekolah di SMP yang satu arah dengan sekolahku. 
Begitu sampai di sekolahku, kakak menyuruhku turun dari boncengan sepeda dengan cara yang kejam. LONCAT! CEPET! AKU UDAH TELAT!!! 
Bayangkan. Anak sekecil diriku disuruh turun dari boncengan dengan cara loncat! KEZAMMMM!!!!

Lalu aku juga pernah tidak 'dianggap' oleh salah satu kakakku -yang lainnya lagi. 
Waktu itu aku diajak jalan-jalan tapi aku disuruh jalan di belakangnya (dikasih jarak sekian meter). Aku nggak boleh berjalan disebelahnya. Dan dia juga mewanti-wantiku: "pokoknya kita kayak nggak kenal ya!". 
Waktu itu mungkin penampilanku terlalu kucel sehingga kakakku -yang sedari kecil gayanya udah paripurna- malu mengakui aku sebagai adiknya. Tapi herannya, kok aku mau-mau aja ya diperlakukan seperti itu? Sama sekali nggak merasa terhina atau merasa terinjak-injak harga diriku. Halah! Aku tetep ngintil dia dengan setia. 
Baru merasa mangkel pas udah gede dan pas inget-inget kejadian itu. Hahaha. 

Kalau mengenang masa kecil itu lucu-lucu menyedihkan rasanya. (Huwopoo iku?). 
Kayaknya dimana-mana yang namanya saudara sekandung, ketika masih kecil banyakan nggak akurnya ya? Hehehe.
Ketika semua sudah beranjak remaja dan kemudian menjadi dewasa (duileee dewasaaaa), ketidakakuran itu hilang entah kemana.
Tentulah namanya manusia, walaupun sekandung tetap aja ada nggak cocoknya. Kadang ada yang nggak pas di hati dan sering juga terjadi 'ketegangan'. Tapi ya nggak pernah berlarut-larut. Tak berapa lama pasti udah kompak lagi. 

Dulu tiap kakak-kakak ngobrol, aku nggak dibolehin nimbrung dengan alasan "masih kecil". Aku sering penasaran. Orang-orang gede itu ngobrolin apa sih? Kenapa aku nggak boleh tau? Dulu aku sering merasa diadiktirikan. 
Itu duluuuu. Sekarang? Sekarang kami bisa ngobrol bareng dengan guyub dan seru. Jangan harap bisa bisik-bisik sendiri. Misalkan dua atau tiga diantara kami sedang ngobrol, kemudian datang yang lainnya, pasti kalimat pertama yang terlontar -dari yang baru gabung- adalah; "piye? Piye? Ada apa?". Hihihi. 

Jarak yang memisahkan beberapa diantara kami tidak lantas membuat kami menjadi jauh. Ya, secara fisik kami memang berjauhan. Tapi hati kami selalu dekat. Uhuk!
Hampir setiap hari selalu ada obrolan seru. Random chat adalah makanan sehari-hari kami. Kami bisa ngobrol soal berita terkini dengan serius lalu nggak lama loncat ke topik lainnya. Dari ngobrolin laktasi, kemudian bahas acara tv lalu ganti ke topik baju. Lain waktu kami lagi ngobrol tentang ilmu parenting. Sedang asyiknya sharing tiba-tiba ada yang OOT bahas resep kue. Kami bisa ngobrol panjang lebar kali tinggi soal tas ransel kemudian ganti ke soal ramekin.  
Ya begitulah, namanya juga perempuan. Hehehe.

Untuk aku pribadi, aku merasa beruntung menjadi adik perempuan termuda. Apalagi setelah aku menikah dan kemudian punya anak. Aku belajar banyak dari kakak-kakakku. 
Tapi ada kejadian lucu. Walaupun kakak-kakakku lebih berpengalaman soal anak tapi mereka pernah kebingungan dan nggak bisa menjawab waktu aku tanya tentang sesuatu. 
Jadi, ketika malak baru lahir aku melihat sesuatu pada salah satu bagian tubuhnya. Untuk memastikan sesuatu itu bukan hal yang membahayakan, bertanyalah aku pada kakak-kakakku. (Karena pada saat itu Ibuk tidak berada di dekatku maka aku bertanya kepada mereka).
"Ini apa ya mbak?" tanyaku sambil menunjukkan sesuatu di lipatan kulit malak.
Mereka satu persatu mengamati lalu masing-masing berkata dengan kalimat yang hampir sama.
"Apa ya ini? Aduh apa ya? Soalnya anak-anakku cowok semua. Jadi nggak tau ini apa. Coba tanya dokter aja untuk lebih pastinya". 
Hihihi. 

Begitu pun dalam hal masak memasak. Kalau abis bikin masakan, kami biasa saling pamer. Pamer, ngiming-ngimingi sekaligus manas-manasin yang lain biar ikutan bikin juga. Dari sini lah kami membuat tagar SisterChallenge. Tantangan buat kami berenam agar semakin semangat belajar masak. Tantangan ini ada syaratnya. Syaratnya: resep harus yang simple dan bahan-bahannya mudah didapat. Jika salah satu dari kami mengajukan resep untuk dijadikan tantangan tetapi resep tsb ribet (baik bahan maupun cara bikinnya), sudah pasti tantangan tsb akan ditolak mentah-mentah. Hahaha. ( Iki challenge model opooo??? ).

Bahagianya memiliki saudara perempuan itu, banyak hal yang bisa dibagi. Tak hanya berbagi cerita, kami biasa pinjem-pinjeman baju, alat make up/kosmetik, aksesoris, sandal dan lain lain -yang bisa dibagi tentunya. Hehehe. 
Jika salah satu dari kami galau ketika hendak membeli suatu barang, tak jarang kami mendiskusikannya terlebih dahulu. Kalau menurut yang lain bagus, ya dibeli. Kalau pada bilang nggak bagus, ya tetep dibeli juga.  Hahahahaha 😝😝✌️✌️. 

Walaupun kini masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri tapi kami selalu ada untuk satu sama lain.
Saling berbagi, saling mencintai, saling mendoakan, saling mengingatkan, saling mendukung, saling menguatkan, That's what sisters are for... 

                         ***

Terimakasih Allah. Aku sangat bersyukur. Memiliki mereka adalah salah satu anugerah indahMu. 

( I love you mbak-mbakku, sayang-sayangku, sahabat-sahabat sejatikuuuu 😘😘😘😘😘 )




Kamis, 14 Januari 2016

Toilet Training

Kemarin (tanggal 13 Januari 2016), akhirnya aku mulai praktek toilet training ke malak. Kenapa "akhirnya"? Ya karena sebenarnya niat untuk bertoilet training sih udah lama tapi tertunda terus karena apalagi kalo bukan malas! *getokpalasendiri*
( Sebenernya beberapa bulan yang lalu udah sempat nyobain toilet training. Tapi karena malak membuatku ngepel 3x dalam hitungan beberapa jam saja, aku pun menyerah. *lambaikantanganpadakamera* ).

Untuk memulainya, memang sangat dibutuhkan niat dan tekad yang membara. Karena apa? Karena si pospak senantiasa menebarkan godaannya. Ia  seperti melambai-lambai ke arah kita dan bilang "udah deh pake aku dulu. Toilet trainingnya kapan-kapan aja". Dudududu....

Tapi karena malak sudah 18 bulan, usia yang cukup ideal untuk mulai bertoilet training (kata beberapa sumber sih), maka aku putuskan untuk segera memulainya. Bismillah!
Sebelumnya, aku udah browsing dulu. Kira-kira apa saja yang perlu disiapkan. Aku juga sudah beli 3 biji training pants untuk persiapan. Rencana mau beli lagi dan sudah hunting di beberapa olshop. Udah milih juga, tinggal order aja lah pokoknya. 
Namun, belum sempat aku order, aku malah terdampar di salah satu thread-nya The Urban Mama yang berjudul "Training Pants". Wah lha kok pas banget. Segera saja ku baca semua komen dalam thread tsb. 
Setelah membaca cerita para mama di thread itu, aku seperti mendapat pencerahan. Halah!
Menurut mama-mama yang sudah lebih dulu berpengalaman, training pants itu nggak terlalu ngefek. Tetep bocor juga. Apalagi kalo pipisnya banyak. Bisa tumpah-tumpah dah. Banyak yang menyarankan untuk membeli celana dalam aja dan memanfaatkan alas ompol atau kain popok jaman bayi untuk sumpelnya. Hihihi. 

Akhirnya rencana menambah koleksi training pants pun kubatalkan. Ganti haluan jadi "hunting celana dalam unyu-unyu". Hehehe. 

Dan saatnya pun tiba.
Kemarin, setelah mandi pagi yang agak kesiangan, malak kupakein celana pop + alas ompol untuk sumpelnya. 
Setelah mandi, dia tidur selama sekitar 2 jam. Bangun tidur, aku cek celananya ternyata sudah basah. Ganti dulu yuuuk.

Selesai berganti celana, aku ajak dia turun untuk bermain bersama sepupu-sepupunya. 
Sampai di depan kamar mandi bawah, malak berdiri mematung sambil memandangi saudara-saudaranya yang tengah asyik bermain. 
Tiba-tiba, wes wes wesss. Malak pipis lagi! Wakwaw!! Dalam hitungan detik, lantai pun basah oleh pipis. Ngepel deh eikeee.
Malaknya sih cuek aja gitu. Nggak ngecipris atau kasih tanda kalo dia ngompol. Pfuihh!! 

Abis ganti celana baru lagi, aku ajak malak jalan-jalan beli celana dalam dan kain pel. Kain pel? Iya.. Dalam beberapa waktu ke depan, bisa dipastikan akan ada adegan ngepel-mengepel lantai. Jadi perlu beli kain pel buat stok. Halah. 
Mudah-mudahan sih adegan ngepelnya nggak sampe berbulan-bulan ya. Aamin.

Kelar belanja, pulang. Sesampainya di rumah, malak langsung main-main lagi. Sekitar 1 jam kemudian, aku ajak dia ke kamar mandi buat pipis. Udah duduk jongkok lumayan lama, eh nggak keluar-keluar juga pipisnya. Ya sudah pake lagi deh celananya.
Setengah jam kemudian, aku liat celananya agak basah. Pas aku cek, ternyata udah ngompol. Untung nggak ada yang tercecer. Jadi nggak perlu ngepel deh eike.
Langsung kubawa lari ke kamar mandi dan kuganti dengan celana baru lagi.
Celana keempat sudah terpasang dan bertahan kering sampai waktunya mandi sore.

Setelah mandi sore, ganti celana baru lagi dong. Celana ke lima untuk hari itu.
Dalam hati berdoa, semoga kering sampai maghrib. Biar pake pospaknya mulai abis maghrib aja.
(Eh lho? Kok masih pake pospak? Ya iya doooong. Kan ini baru latihan. Jadi belum bisa 100% no pospak. Pelan-pelan dulu lah. Hehehe). 

Lima belas menit setelah mandi sore, ketika dia sedang asyik kesana kemari, aku liat celananya nemblong basah gitu. Wakss!! Udah ngompol boooook. Cek cek lokasi, Alhamdulillah belum sampai bocor. Langsung angkut ke kamar mandi deh. 
Abis itu mau kupakein celana pop plus sumpel lagi, kok nanggung ya? Udah lah sekalian aja pakein pospak. Hahaha.

Jadi hari pertama bertoilet training, bisa dibilang lumayan lah. Bisa dari pagi sampe sore. Semoga hari-hari selanjutnya bisa istiqomah. Aamiin. Semangat!!! 









Sabtu, 10 Oktober 2015

Malak's First Birthday

Ya ya ya.. Ini memang very very latepost. Gimana nggak, ultahnya aja bulan Juni kemarin. Ceritanya baru ditulis sekarang. Yasalaaam.

Biarin deh. Mumpung lagi seneng-senengnya nulis. Apa aja ditulis-biarpun telat. Hehehe.

Jadi.. Tanggal 30 Juni 2015 yang lalu, malak genap berusia satu tahun. Yeayyy!!! Nggak nyangka banget. Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku hamil dia, eh sekarang udah gede aja ni bocil. 

Satu tahun pertama bagi ibu baru sepertiku sungguh luar biasa rasanya. Hari-hari dimana ada bayi yang bisanya cuma nangis, nenen, pee dan pup telah berlalu. Begitu pula dengan tumpukan popok kotor yang menggunung setiap harinya. Pemandangan itu kini tak ada lagi. 
Bayi mungil itu kini sudah lincah kesana kemari, sudah makan segala macam makanan, sudah ngecipris rauwis wis. Hihihi.

***

Kurang lebih 2 bulan sebelum Hari-H, aku mulai nyicil beli ini itu buat acara ultahnya. Mmm.. Sebenernya bukan acara sih. Karena emang nggak ada pesta yang ngundang sodara/teman layaknya pesta ultah anak. Aku cuma bikin goodie bag untuk dibagikan ke sodara-sodara dan kerabat.

Nyari ide goodie bag dll lewat browsing kesana kemari. Untung ya sekarang ada instagram dan juga pinterest. Ide-ide segar banyak banget disana. Tinggal dimodifikasi dikit aja -kalo nggak mau sama plek. 

Untuk paper bag-nya, aku pesan di salah satu OS di Yogya. Dapatnya via instagram. Alhamdulillah nemu yang cocok. Desain logonya dibikinin sama adik lanang tercinta. 
Souvenir juga beli online. Sejak punya anak, belanja online memang lebih menyenangkan untukku.

 

Untuk isinya (baca: snack dkk) ya beli di toko terdekat aja lah. Hehehe. 
Selain snack aneka rupa, ada juga nasi plus ayam ala-ala fried chicken gitu. Kenapa milih menu ini bukan nasi kuning kayak yang lainnya? 
Aku sering liat, ponakan-ponakanku kalo dapat nasi kuning goodie bag, sering nggak abis. Kadang yang dimakan cuma nasi sama telur dadarnya doang. Sayur dll dianggurin. Kan sayang. 
Kalo fried chicken, rata-rata anak kecil suka. Jadi yawis, pilih menu itu saja.

Untuk dessertnya, aku bikin puding sutra rasa stroberi. Aku mulai bikin puding setelah malak tidur. Rasanya puasss bisa bikin puding sendiri. Makin seneng lagi pas pada bilang "enaaak". Horee!! *jogedjoged*



***

Walaupun nggak bikin pesta tapi aku tetap nyiapin tempat khusus beserta printilannya untuk malak. Buat foto-foto gitu deh. Hihihi.
Aku pilih pojokan ruang tamu Ibu. Dindingnya aku pasangi bunting flag yang aku buat dari doily paper. 
Kursi makan malak aku hias pake renda dan pita. Selain itu, aku juga nyiapin balon-balon. Balonnya aku pilih yang motif polkadot. Biar kekinian. Belinya online juga lah. 
Aku pengen bikin standing baloon gitu. Tapi nggak mau yang pake karbit karena baunya nggak enak. Akhirnya nyuruh orang buat nyari tukang balon buat ngisi gas. 
Semua ide printilan yang aku ceritain diatas, dapat dari Pinterest. Thanks Pinterest!! 
Jadi biarpun nggak ada pesta tapi tetep bisa foto lucu-lucuan dengan properti khas ulang tahun.

 

***

Dari awal aku memang nggak ada rencana bikin birthday cake buat malak. Selain aku nggak jago bikin cake, aku masi serem kalo ngasih malak makanan manis -walaupun sebenernya sudah boleh. 
Nyari ide lain yang bisa nggantiin birthday cake dan Alhamdulillah nemu. Nemu dimana? lagi-lagi nemu dari Pinterest! 
Jadi 'birthday cake' nggak harus berupa cake asli. Tapi bisa juga dibuat dari potongan buah yang disusun terus atasnya dikasih lilin. Cucok bener ini. Malak kan pengikut food combining jadi pas banget. Yes!!

 

Tau kalo nggak ada kue tart ultah, mbakyu2 heboh. "Kok nggak bikin cake sih? Kan ultah? Blablabla. Sini aku bikinin". Asyiiiiikk!!! Thanks mbak-mbakkuuu 😘😘😘.
Lalu dibikinlah brownies kukus yang dihias dengan selai stroberi. Yummy!!




Malam hari selepas buka puasa, malak dan beberapa kakak sepupunya ngumpul untuk tiup lilin dan potong kue. Oh dan tentu saja foto-foto dong. Akhirnya tetep ada pestanya juga. Pesta kecil-kecilan nan sederhana namun penuh makna. Halah! 
Selesai makan kue dan foto-foto, selesai juga lah segala kerempongan hari itu. Pfuiiihhh!!! Seneng, puas, lega, terharu jadi satu. Alhamdulillah. Terimakasih untuk semuanya yang sudah bantuin. Jazaakumullah 😘😘😘😘😘.





 








***

Dear Malak, doa-doa indah selalu mengiringimu nak. Semoga engkau panjang umur, sehat selalu dan jadi anak solehah kebanggaan Bapak dan Ibu. 
I love you malak saugandhika....























Rabu, 30 September 2015

Piknik 27 September 2015

Hari Minggu kemarin aku dan malak diajak Mbak Iey piknik ke Kampoeng Bluron di Tempuran Blora.
Langsung aku iyain aja lah ajakannya. Daripada di rumah aja, sepi. Hehehe.
Sehari sebelum berangkat, rembugan jam berangkatnya. Semula disepakati berangkat jam tujuh pagi. Samih lalu usul: jangan jam tujuh. Jam enam aja. Nanti kalo kesiangan keburu rame tempatnya. Oke deh sepakat jam enam pagi.

Hari H tiba. 
Sebelum subuh aku udah bangun. Abis sholat Isya, aku langsung bikin puding sutra buat bekal si Malak. Masak rampung pas azan Subuh.
Ini penampakan puding sutranya:


Dari dalam kamar mbak Iey, aku dengar suara alarm berbunyi. Nggak cuma satuz tapi dua alarm berdering bersahut-sahutan. Wah kayaknya serius nih mau berangkat pagi-pagi bener. Pada pasang alarm, batinku.
Tapi ternyata oh ternyata, sampai jam enam belum ada yang siap. Hihihi. Samih yang usul malah belum bangun. Hedeeeeh.
Akhirnya rombongan baru berangkat jam setengah delapan pagi. Huihihihi.

Jam setengah sembilan kurang kami sudah sampai di lokasi. Masih sepiii banget. Pas masuk ke arena wisatanya, baru ada tiga pengunjung.
Anak-anak langsung secepat kilat ganti baju dan byuuurrrr, nyemplung deh ke kolam renang.
(Oya, jadi Kampoeng Bluron ini di dalamnya cuma ada waterboom, taman-taman dan restoran yang berbentuk gazebo. Tiket masuknya weekdays: Rp.10.000,00 per orang, weekend: Rp.15.000,00 per orang).
Malak nggak berani nyemplung jadi ya jalan-jalan aja di tamannya. Sambil sesekali dadah-dadah ke mas-masnya. Sempat sih ganti baju renang sebentar tapi dia nggak mau masuk ke kolamnya. Cuma mau duduk-duduk di pinggir kolam. Yawis, akhire ganti baju lagi deh. 


(Mupeng liat yang pada berenang 😂😂)

Jam sepuluh, Sakhiy keluar dari kolam. Badannya udah menghitam dan menggigil. Kedua masnya kulihat masih asyik main perosotan. 
Tiba-tiba dari arah pintu masuk terdengar  suara gaduh. Ternyata ada rombongan anak-anak dalam jumlah besar datang. 
Segera kupanggil Samih dan Rooqy. Aku kasih isyarat untul segera keluar dari kolam. Sempat mau nolak mereka. Tapi begitu melihat ada rombongan anak-anak datang berduyun-duyun, mereka langsung manut. 

Setelah anak-anak mandi, kami pesan makanan dan minuman. 
Menu yang ditawarkan hanya ada gurame dan kakap saja. Tak ada ikan lainnya, ayam, kambing ataupun sapi. Kalo yang nggak suka ikan ya alamat dehh. Hahahaha.
Makanan datang lansung pada kalap tuh anak-anak yang abis renang. 

(Wajah kekenyangan 😋😋😋)

Selasai makan, kami pun meninggalkan Kampoeng Bluron dan menuju Kampoeng Gojekan yang berjarak kurang lebih 500 m.
Sebelum pulang, foto-foto dulu laaaah.

(Namanya emak-emak ye. Kemana-mana bawa tas segede gaban. Pas kelar foto baru sadar. Kenapa tadi nggak ditaruh dulu ya itu tas? 😓)


Nggak nyampe sepuluh menit kami sudah tiba di lokasi Kampoeng Gojekan. Begitu turun dari mobil, masyaAllah panasnyaaaa!! Pepohonannya masih kurang banyak jadi kurang rindang deh.

Tiket masuknya masih gratis karena masih masa promo. Lumayan lah. Hehehehe.
Ada beberapa permainan yang ditawarkan. ATV, Motor trail, perahu dayung, istana balon dan balon besar yang bisa gelinding diatas air itu apa itu namanya ya? Yawis pokoke itu lah 😁😝.

Samih milih naik motor trail, Sakhiy dan Papahnya naik ATV. Tiket untuk naik satu unit motor Rp.20.000,00. 


Aku, Malak dan Rooqy milih istana balon. Tiket masuk ke istana balon Rp.5000,00 per orang. Malak mah belum diitung. Sementara itu Mbak Iey dan Maiya menunggu dengan duduk santai di gazebo. 

Pertama kali masuk ke istana balon, Malak masih takut-takut. Dia nggamblok terus. Nggak mau lepas dari pelukanku. 
Setelah beberapa menit, dia mau duduk sendiri tapi masi pegangan aku. Lihat Rooqy jumpalitan, lama-lama dia pengen juga. Pelan-pelan dia merangkak mendekati Rooqy. Nggak lama udah deh keasyikan! Guling sana guling sini sambil ketawa dan jerit-jerit heboh 😓😓.
Sekitar setengah jam kami main di istana balon. Karena hari semakin siang dan semakin panas, kami pun memutuskan untuk pulang. Tapi Samih masih minta main satu kali lagi. Yaudah akhirnya 
nambah main satu permainan lagi. 


Sekitar jam duabelas siang kami pun meninggalkan Kampoeng Gojekan. Sebelum pulang ke Rembang, kami sempatkan dulu mampir ke Toko Kurnia untuk beli roti jagung yang legendaris itu. Tapiiii sampai di toko tsb, rotinya belum datang sodara-sodara. Sore baru datang. Yaaaah penonton kecewa. *gigitjari*

Sekitar satu jam kemudian, kami sudah sampai di rumah dengan selamat sentosa bahagia dan capek membahana. Halah! Alhamdulillah.

Seneng deh bisa bawa Malak ke tempat-tempat baru. Nyobain hal-hal baru. Capek jelas tapi seruuu!
Piknik berikutnya kemana ya enaknya? 😊😊










Jumat, 19 Juni 2015

Selamat Berpuasa

Bulan puasa tahun kemarin, aku pas lagi rempong-rempongnya dengan si bayi imut mungil. Bayi mungil yang udah nggak sabar pengen liat gebyarnya dunia dan akhirnya lahir sebulan sebelum HPL. Karena lahir di hari kedua puasa, alhasil emaknya utang puasa sebulan penuh. Ulalalaaaa. 
Utang sebulan penuh tahun lalu cuma bisa terbayar satu gara-gara aku lemes tak berdaya. Saking lemesnya sampe kayak gombal deh. Tapi masak sih bulan puasa tahun ini mau numpuk utang lagi? 
Dengan niat penuh serta doa kenceng, aku bertekad tetap puasa walaupun  sedang menyusui. Alhamdulillah si bocil udah makan juga jadi nggak full ASI. Tapi ya teteeeep aja lemes. Alhamdulillah biarpun lemes dan mata prepet-prepet, tetap kuat puasa sampai maghrib. Begitu buka, Subhanallah... Rasanya nikmaaaattttt. Hihihi. 
Mudah-mudahan puasa kali ini lancar jaya. Bismillah kuat kuat!! Semangat!